Sabtu, 17 Desember 2011

BUDIDAYA KRISAN


TINJAUAN PUSTAKA

2.1   Sejarah singkat

Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain seruni atau bunga emas (Golden Flower) yang berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina dikenal dengan Chrysanthemum indicum (kuning), Chrysanthemum morifolium (ungu dan pink) dan Chrysanthemum daisy (bulat pompom) Jepang pada abad ke-4 mulai membudidayakan krisan dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai symbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of  The East (Rukmana dan Mulyana, 1997).
Tanaman Krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Prancis tahun 1795. Tahun 1808 M Colvil dari Chelsea mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Pada abad ke-17 krisan mulai masuk ke Indonesia, sejak tahun 1940 krisan dikembangkan secara komersial (Rukmana dan Mulyana, 1997).
Menurut Rukmana dan Mulyana (1997), terdapat 1000 varietas krisan yang tumbuh didunia. Beberapa varietas krisan yang dikenal antara lain adalah
C. daisy, C. indicum, C. coccineum, C. frustescens, C. maximum, C. hornorum dan C. parthenium. Varietas krisan yang banyak ditanam di Indonesia umumnya diintroduksi dari luar negeri terutama dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang.
Bunga krisan sangat populer dimasyarakat  karena banyaknya jenis, bentuk dan warna bunga.  Selain bentuk mahkota dan jumlah bunga dalam tangkai, warna, bunga juga menjadi pilihan konsumen.  Pada umumnya konsumen lebih menyukai warna merah, putih dan kuning, sebagai warna dasar krisan namun sekarang terdapat berbagai macam warna yang merupakan hasil persilangan diantara warna dasar tadi (Rukmana dan Mulyana, 1997).

2.2   Klasifikasi dan jenis tanaman  

Kedudukan  tanaman  krisan atau seruni dalam  taksonomi tumbuhan  adalah sebagai berikut:
Divisi               : Spermathophyta                        
Sub Divisi       : Angiospermae
Famili              : Asteraceae
Genus              : Chrysanthemum
Species            : C. morifolium Ramat, C. indicum, C. daisy dll
(Rukmana dan Mulyana, 1997)
Bunga krisan merupakan bunga majemuk di dalam satu bonggol bunga terdapat bunga cakram yang berbentuk tabung dan bunga tepi yang berbentuk pita.  Bunga tabung dapat berkembang dengan warna yang sama atau berbeda dengan bunga pita.  Dengan bentuk dan warna bunga krisan yang beranekaragam memungkinkan banyak pilihan bagi konsumen (Rukmana dan Mulyana, 1997).

2.3        Syarat pertumbuhan

Krisan dapat  tumbuh baik di dataran tinggi (>800 mdpl ) dengan pH tanah 5,5 - 6.  Penanaman di daerah pegunungan dengan pH tanah 5 - 5,5 perlu didahului dengan  pengapuran.  Krisan memerlukan tanah dengan kesuburan sedang karena tanah yang subur akan mengakibatkan tanaman menjadi rimbun.   Apabila ditanam di pot pH media yang sesuai adalah 6,2 - 6,7.  Secara genetik krisan merupakan tanaman hari pendek, untuk mendapatkan pertumbuhan yang seragam dan produksi bunga yang tinggi, pertumbuhan vegetatifnya perlu diberi perlakuan hari panjang dengan penambahan cahaya lampu pijar atau neon
(Harry, 1994).
Untuk daerah tropis seperti di Indonesia suhu rata- rata harian di dataran rendah terlalu tinggi untuk pertumbuhan tanaman krisan, suhu udara di siang hari yang ideal untuk pertumbuhan tanaman krisan berkisar antara 200 – 260 C dengan batas minimum 170 C dan batas maksimum 300 C. Suhu udara pada malam hari merupakan faktor penting dalam mempercepat pertumbuhan tunas bunga. Suhu ideal berkisar antara 160 – 180 C bila suhu turun sampai dibawah  160 C, maka pertumbuhan tanaman menjadi lebih vegetatif bertambah tinggi dan lambat berbunga.  Pada suhu tersebut intensitas warna bunga meningkat (Cerah) sebaliknya bila suhu malam terlalu tinggi dapat berakibat melunturnya warna bunga sehingga penampilan tampak kusam walaupun bunganya masih segar (Hasim dan Reza, 1995).
Kelembaban udara antara 70% - 80% dinilai cocok untuk pertumbuhan tanaman krisan. Kelembaban udara yang tinggi mengakibatkan transpirasi (penguapan air) dari tanaman menjadi kecil dalam waktu pendek.  Keadaan ini membuat tanaman selalu dalam keadaan segar.  Untuk waktu yang agak lama, dengan tidak adanya sirkulasi air dalam tanaman menyebabkan penyerapan air dan unsur hara terlarut dari dalam tanah juga sedikit.  Kekurangan nutrisi kebalikannya, kelembaban udara yang rendah menyebabkan transpirasi tanaman menjadi tinggi.  Air menguap dengan cepat melalui pori- pori daun dan perakaran ini berarti menyerap air dari tanah. Bila tanaman terlambat mengganti defisit air dalam pucuk - pucuk yang baru tumbuh menjadi layu atau mengeringnya tepian daun yang sudah dewasa (Hasim dan Reza, 1995).

2.4   Tanaman krisan berdasarkan sifat dan siklus hidup

a)      Krisan Lokal
Krisan lokal sinonim dengan krisan kuno atau krisan non hibrida. Meskipun pada mulanya krisan berasal dari luar negeri, tetapi karena telah lama ditanam dan beradaptasi baik dilingkungan tropis Indonesia, dianggap sebagai krisan varietas lokal.
b)      Krisan Introduksi
Ø  Krisan introduksi sinonim dengan krisan modern atau krisan hibrida.
Ø  Ciri khas krisan introduksi antara lain adalah sifat hidupnya berhari pendek dan siklus hidupnya pun relatif singkat (pendek) sebagai tanaman annual.
Ø  Contoh krisan introduksi C. indicum hybr. Dark flaminggo,
C. indicum. Hybr. Dolaroid, C. indicum. Hybr. Indianapolis
(berbunga kuning), Cossa, Clingo, dan Fleyer (Berbunga putih), Alexandra Van Zaal (berbunga Merah), dan Pink Pingpong (berbunga pink).  

2.5   Tanaman krisan berdasarkan jumlah kuntum bunga

a)      Krisan standart
Ø  Krisan standar ditandai dengan jumlah bunga hanya satu kuntum pertangkai, dan diameter bunganya berukuran besar.
Ø  Contoh krisan standar antara lain adalah varietas Regal mist, borholm, dark red pompon, kiu, inga, dan shamrock. Pada mulanya semua krisan menghasilkan tangkai bunga yang berisi beberapa kuntum bunga, namun kemudian dengan teknik disbudding para ahli tanaman menciptakan krisan berbunga tunggal atau disebut krisan standar.
b)      Krisan Spray
Ø  Krisan spray ditandai dengan jumlah bunga antara 10-20 kuntum pertangkai, dan diameter bunga berukuran kecil antara 2-3 cm.
Ø  Contoh krisan spray antara lain varietas puma, ellen van lengen pink paso doble, orange granada, bari, regol, cokelat, revert, pink granada, regol time, yellow granada, salmon impala, klondike dan cheetah.

2.6   Keadaan iklim tanaman krisan

a)      Cahaya
Umumnya varietas-varietas krisan komersial asal luar negeri termasuk tanaman hari pendek, sehingga untuk merangsang pertumbuhan vegetatif perlu dipelihara dalam kondisi hari panjang. Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa mempunyai panjang hari sekitar 12 jam. Kondisi panjang hari 12 jam cocok untuk pertumbuhan tanaman krisan, tetapi kurang produktif untuk pembungaan.
b)      Suhu Udara (Temperatur)
Di daerah tropis seperti Indonesia, suhu udara yang paling baik untuk pertumbuhan tanaman krisan adalah antara 200C – 260C (siang hari). Toleransi tanaman krisan terhadap faktor suhu udara untuk tetap tumbuh baik adalah antara 170C -300C.
Suhu udara berpengaruh langsung terhadap pembungaan krisan. Suhu udara yang ideal untuk pembungaan adalah antara 160C - 180C. Pada suhu tinggi
(lebih dari 180C) bunga krisan  cenderung berwarna kusam, sedangkan suhu rendah (kurang 160C) berpengaruh baik terhadap warna bunga karena cenderung makin cerah.
c)      Curah hujan
Air hujan merupakan salah satu sumber air yang dibutuhkan tanaman krisan agar tumbuh prima. Namun hujan deras atau keadaan curah hujan tinggi yang langsung menerpa tanaman krisan menyebabkan tanaman roboh, rusak dan kualitas bunganya rendah. Tanaman krisan membutuhkan air dalam jumlah memadai, tetapi tidak tahan terhadap air hujan deras. Oleh karena itu pembudidayaan krisan di daerah bercurah hujan tinggi dapat dilakukan didalam bangunan green house. 
d)     Kelembaban udara
Tanaman krisan umumnya membutuhkan kondisi kelembaban udara (rH) tinggi. Pada fase pertumbuhan awal, seperti perkecambahaan benih atau pembentukan akar bibit stek, diperlukan kelembapan udara antara 90% - 95 %.
Tanaman muda sampai dewasa tumbuh dengan baik pada kondisi ke-lembaban udara (rH) antara 70% - 80%. Kelembapan yang tinggi perlu diimbangi dengan sirkulasi udara yang memadai disekitar kebun. Bila kelembapan udara tinggi, sementara sirkulasi udara jelek dapat menyebabkan mudah berkembang  organisme penyebab penyakit, terutama cendawan (jamur). 
e)      Karbondioksida
Kadar CO2 yang ideal dan dianjurkan untuk memacu kemampuan fotosintesis tanaman krisan adalah anatara 600 ppm – 900 ppm. Oleh karena itu, pada pembudidayaan tanaman krisan dalam bangunan tertutup, seperti rumah plastik dan green house, dapat ditambahkan CO2 hingga mencapai kadar yang dianjurkan.
f)       Ketinggian tempat
Mengingat tanaman krisan membutuhkan suhu udara untuk pertumbuhan antara 200C -260C dan pembungan pada suhu 160C – 180C dengan  kelembaban udara antara  70% - 80%, maka lokasi yang cocok untuk budidaya tanaman ini adalah di daerah berketinggian 700  – 1200 m dpl.

2.7   Manfaat krisan pot

Kegunaan tanaman krisan yang utama adalah sebagai bunga hias. Manfaat lain adalah sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga. Sebagai bunga hias, krisan di Indonesia digunakan sebagai:
Ditandai dengan sosok tanaman kecil, tingginya 20-40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam di pot, polibag atau wadah lainnya. Contoh krisan mini
(diameter bunga kecil) ini adalah varietas Lilac Cindy (bunga warna ping keungu-unguan), Pearl Cindy (putih kemerah-merahan), White Cindy (putih dengan tengahnya putih kehijau-hijauan), Applause (kuning cerah), Yellow Mandalay
(semuanya dari Belanda). Krisan introduksi berbunga besar banyak ditanam sebagai bunga pot, terdapat 12 varietas krisan pot di Indonesia, yang terbanyak ditanam adalah varietas Delano (ungu), Rage (merah) dan Time (kuning).

2.8   Budidaya krisan pot

Kesesuaian lahan dan iklim untuk budidaya krisan pot sama dengan kesesuaian lokasi (agroklimat) krisan potong, sehingga paparan berikut ini lebih banyak menjelaskan kepada aspek khusus budidaya krisan pot sebagai berikut.
2.8.1  Media Tanam
Pertimbangan khusus dalam menentukan media tanam adalah mudah didapat, harga relatif murah, ringan dan harus memiliki sifat-sifat fisik dan kimia yang bisa mendukung pertumbuhan akar dan serapan hara secara optimal. Sifat fisik yang penting adalah media harus ringan, gembur dan memiliki aerasi cukup baik. Sifat kimia adalah derajat keasaman media netral dengan pH 5.52-6.7, memiliki electric conductivity (EC) rendah sehingga tidak ada kekhawatiran keracunan unsur tertentu. Bahan yang banyak digunakan adalah serbuk sabut kelapa (cocopeat) dan arang sekam. Gambut memiliki daya pegang air cukup tinggi, dan partikel-partikelnya banyak membentuk gumpalan-gumpalan kecil sehingga membentuk rongga-rongga udara. Untuk mengurangi rongga ini perlu ditambahkan bahan lain yang bisa mengisinya seperti serbuk sabut kelapa dan sekam bakar. Cocopeat memiliki daya pegang air cukup baik dan tidak membentuk gumpalan antar partikelnya sehingga bisa digunakan untuk mengisi rongga. Komposisi media yang baik untuk krisan pot adalah campuran dari gambut (peat), cocopeat dan arang sekam dengan perbandingan volume 4:4:1.
2.8.2  Pembibitan
Tinggi bibit untuk krisan pot tidak boleh lebih dari 5 cm. bibit yang terlalu tinggi menyebabkan pertunasan yang kurang kompak, tunas yang terbentuk berjauhan sehingga bagian bawah tanaman menjadi kurang rimbun.
Jumlah bibit yang ditanam dalam satu pot bisa bervariasi. Untuk ukuran pot 14 -15 cm bisa ditanam 5-6 bibit. Untuk menentukan jumlah bibit yang ditanam dalam satu pot juga harus mempertimbangkan produktivitas tunas dari jenis yang ditanam. Untuk jenis yang hanya mengeluarkan tunas sedikit, dibutuhkan jumlah bibit agak banyak, sehingga tanaman pot agak rimbun.
2.8.3  Penanaman 
Satu bibit ditanam cepat ditengah pot dengan posisi tegak lurus, kemudian bibit lainnya ditanam dibagian pinggir pot dengan posisi agak condong keluar agar tunas yang dihasikan menyebar keluar sehingga tanaman pot terlihat lebih besar dan rimbun.
2.8.4  Penyiraman
Penyiraman tanaman pot bisa dilakukan dengan cara manual atau menggunakan alat bantu sistem irigasi. Beberapa pertimbangan dalam me-nentukan penyiraman adalah frekuensi penyiraman, kualitas air, penyiraman tidak kena daun, penyiraman dilakukan sekaligus dengan pupuk. Untuk memenuhi persyaratan penyiraman yang baik, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar hasil penyiraman lebih efisien:
Sistem rendam atau penyiraman dengan merendam sebagian pot ke dalam air setinggi 5-10 cm, selama beberapa menit, secara kapiler air dan pupuk bergerak dari bagian bawah pot ke permukaan atas media, sistem ini mengandalkan daya kapiler media terhadap air yang akan merambat dari bawah ke atas. Pada fase colouring (fase terakhir perkembangan tanaman krisan pot, saat warna bunga mulai muncul) tanaman harus dipindahkan ke tempat khusus dan sistem pengairannya biasanya menggunakan sistem rendam untuk memudahkan panen. Perendaman Tanaman Krisan Sistem drip. Dengan sistem drip (irigasi tetes) setiap pot disambungkan dengan selang yang mempunyai jarum untuk mengatur keluarnya air dan sebagai jalan tetesan air ke media. Dengan menggunakan sistem drip, pemupukan bisa dimasukkan ke dalam alat irigasi. Pupuk yang digunakan harus yang mudah larut ke dalam air agar lubang drip tidak mudah tersumbat dan pupuk lebih mudah diserap oleh tanaman. Biasanya pada fase Short day krisan pot dipindahkan ke tempat lain dan sistem pengairannya menggunakan sistem drip.
2.8.5  Pemupukan
Pemilihan komposisi pupuk untuk krisan pot dilakukan dengan mem-pertimbangkan besarnya biaya produksi. Contoh pada tabel adalah komposisi pemupukan krisan pot yang digunakan di PT Kebun Ciputri.
Tabel 1 Komposisi pupuk untuk larutan pekat
Jenis pupuk
Jumlah (gram)

Stok A (20 liter)


Ca(NO3)2. 4H2O
2.880

KNO3
1.814

Stok B (20 liter)


KNO3
1.476

MnSO4.4H2O
5,76

ZnSO4.7H2O
0,9288

Borak
7,099

Na2MoO4.2H2O
0,269

MgSo4.7H2O
1.364,6

FeSo4.7H2O
85,76

Kristalon hijau
1.754,4



 Sumber : Cahyono (1999) dalam Supari (1999).
Bahan pupuk dapat dibuat dari senyawa kimia lainnya sesuai dengan ketersediaan bahan dipasar dan juga dari harga yang lebih ekonomis. Akan tetapi yang terpenting adalah komposisi dari masing-masing unsurnya. Pada tabel disajikan pedoman untuk komposisi unsur pupuk.
Tabel 2 Komposisi unsur pupuk dalam 1 liter larutan pekat
K
38,86
N-Nos
26,26
N-NH2
1,58
P
3,43
Ca
12,23
Mg
4,08
Mn
0,124
Zn
0,032
B
0,049
Cu
0,0263
Mo
0,0066
Fe
0,489
Sumber : Cahyono (1999) dalam Supari (1999)
2.8.6  Pengaturan panjang hari
Krisan pot memiliki fisiologi sama dengan krisan potong, yaitu memiliki respon terhadap fotoperiodisasi. Lama penyinaran yang tepat untuk iklim Indonesia 14-16 jam sehari, sehingga pada daerah tropis paling tidak tanaman krisan perlu tambahan cahaya selama dua jam dengan intensitas cahaya minimal 40 lux bila menggunakan lampu TL dan 70 lux apabila menggunakan lampu pijar. Pemberian cahaya lampu dilakukan sejak awal tanam sampai tunas lateral yang keluar dari ketiak daun, tumbuh sepanjang 2-3 cm. Bila tunas yang keluar sudah cukup, maka tanaman akan masuk fase short day. Supaya bunga mekar secara serempak, ada penanam krisan pot yang melakukan blackout pada malam hari yaitu menutup tanaman dengan plastik hitam atau kain hitam sedemikian rupa sehingga cahaya dari luar sama sekali tidak mengenai tanaman.
2.8.7  Pinching dan Disbudding
Pinching adalah membuang pucuk terminal dari bibit asal, hal ini dilakukan untuk menghentikan dominasi tunas apikal untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas lateral dari ketiak daun. Dari setiap bibit diharapkan mengeluarkan tunas lateral sebanyak 3-4 tunas produktif, sedangkan tunas-tunas yang kecil atau tidak produktif harus dibuang, sehingga kualitas tunas yang dipelihara benar-benar bagus. Pinching dilakukan setelah tanaman memiliki lima daun sempurna, dan yang dibuang adalah tunas diantara daun keempat dan kelima, bila daun pertama dihitung dari bawah. Tanaman yang dipinching telah berumur lebih dari 10-14 hari setelah bibit ditanam. Pinching harus dilakukan tepat waktu. Apabila terlambat maka internode dari bibit akan terlalu panjang, akibatnya jarak antar tunas yang akan tumbuh saling berjauhan.
Disbudding adalah pembuangan bakal bunga yang tidak diinginkan sesuai dengan tujuan pembentukan bunga. Disbudding dilakukan setelah bakal bunga yang tidak diharapkan mulai tumbuh dan siap dibuang tanpa mengganggu bakal bunga yang siap untuk dipelihara.
2.8.8  Pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT)
ZPT digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman, merangsang pertumbuhan tanaman atau menekan pertumbuhan tanaman. Pada krisan pot, pemberian ZPT diupayakan untuk merangsang pertumbuhan tunas dan daun sehingga membentuk tanaman menjadi tanaman pot yang kompak, rimbun dan indah. Salah satu ZPT yang biasa digunakan untuk mempercepat pertunasan adalah Hobsanol. Penyemprotan Hobsanol dilakukan setelah pinching dan seminggu setelah aplikasi yang pertama. Untuk menekan pertumbuhan agar krisan pot tidak terlalu tinggi maka digunakan alar atau cultar.
2.8.9  Pengendalian hama dan penyakit
Kualitas krisan pot sangat ditentukan oleh kesehatan tanaman, sehingga pemeliharaan tanaman mulai dari tanam sampai siap untuk dipasarkan harus dilakukan secara cermat. Untuk mendapatkan kualitas tanaman pot yang prima maka pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara intensif. Adapun hama dan penyakit tanaman yang banyak menyerang krisan pot adalah sama dengan krisan potong yaitu pengorok daun, thrips, aphids, ulat , dan karat putih.
2.8.10        Panen dan pasca panen
Pemanenan tanaman krisan pot tentunya dilakukan bersama-sama dengan medianya. Beberapa faktor yang menjadi kriteria kualitas tanaman pot adalah sebagai berikut.
  1. Tajuk. Batang tanaman tidak terlalu tinggi, sekitar 20-25 cm. Bentuk tajuk tumbuh ke samping pot, sehingga bila dilihat dari bagian atas, tanaman memiliki diameter lebih dari 20 cm; semakin lebar diameter tajuk dengan batang yang kuat akan semakin baik.
  2. Daun. Warna daun hijau segar dan bersih dari residu pupuk daun dan pestisida. Bentuk daun normal dan tidak cacat, bebas dari serangan hama penyakit. Daun tumbuh lebat sehingga terlihat rimbun.
  3. Bunga. Warna bunga cerah dan tidak pudar. Semua bunga dalam satu pot tumbuh normal dan bebas hama penyakit. Bunga mekar serempak, kompak, dan tinggi bunga rata.
Setelah krisan pot diseleksi sesuai kriteria, maka segera dimasukkan ke dalam kantong plastik agar bunga dan cabang tidak patah selama dalam transportasi. Sebelum tanaman pot dimasukkan kedalam plastik dan dikemas kedalam kardus, media tanam harus dalam kondisi lembab dan pot dalam keadaan bersih.

2.9   Sentra penanaman

Daerah sentra produsen krisan antara lain: Cipanas, Cisarua, Sukabumi, Lembang (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), Brastagi (Sumatera Utara).