Kamis, 24 November 2011

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN TEH


Morfologi Tanaman Teh

 Tanaman teh merupakan tanaman subtropis yang sejak lama telah dikenal dalam peradaban manusia.Penanaman botani tanaman ini memiliki sejarah sen-diri.
 Dalam buku Species Plantarum, menamakan tanaman ini sebagai Thea sinensis. Kemudian, selama bertahun-tahun, diperkenalkan dua nama ilmiah oleh para ahli botani, yaitu Camellia thea di India dan Sri Lanka dan Cohen Stuart dari Indonesia menggunakan nama Camellia theiufera. Tetapi sekarang terdapat ke-seragaman nama ilmiah untuk tanaman ini yaitu Camellia sinensis (L) yang di-perkenalkan oleh O. Kuntze (Eden, 1956). Tanaman teh termasuk marga (genus) Camelia dari famili Theaceae.

 Klasifikasi Tanaman Teh

Menurut Graham (1984), tanaman teh (Camellia sinensis) diklasifikasikan sebagai berikut.
Divisi               : Spermatophyta  
Sub divisi        : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledoneae
Sub Kelas        : Dialypetalae
Ordo                : Clusiales
Familia            : Theaceae
Genus              : Camellia
Spesies            : Camellia sinensis

Syarat Tumbuh Tanaman Teh

Iklim untuk budidaya teh yang tepat yaitu dengan curah hujan tidak kurang dari 2.000 mm/tahun. Tanaman memerlukan matahari yang cerah. Suhu udara harian tanaman teh adalah 13-25o C.Kelembaban kurang dari 70%. Untuk media tanamnya jenis tanah yang cocok untuk teh adalah Andasol, Regosol, dan Latosol. Namun teh juga dapat dibudidayakan di tanah podsolik (Ultisol), Gley Humik, Litosol, dan Aluvia. Teh menyukai tanah dengan lapisan atas yang tebal, struktur remah, berlempung sampai berdebu, dan gembur. Derajat kesamaan tanah (pH) berkisar antara 4,5 sampai 6,0. Berdasarkan ketinggian tempat, kebun teh di Indonesia dibagi menjadi tiga daerah yaitu dataran rendah sampai 800 m dpl, da-taran sedang 800-1.200 m dpl, dan dataran tinggi lebih dari 1.200 m dpl. Per-bedaan ketinggian tempat menyebabkan perbedaan pertumbuhan dan kualitas teh. Ketinggian tempat tergantung dari klon, teh dapat tumbuh di dataran rendah pada 100 m dpl sampai ketinggian lebih dari 1000 m dpl (Setyamidjadja, 2000).

Persiapan Lahan

 Persiapan lahan dimulai dengan pembongkaran tunggul-tunggul dan pohon sampai ke akar agar  tidak  menjadi sumber penyakit akar. Lahan yang digunakan untuk penanaman baru dapat berupa hutan belantara, semak belukar atau lahan pertanian lain, yang telah diubah dan dipersiapkan bagi tanaman teh. Secara umum  urutan  kerja persiapan lahan bagi penanaman baru adalah sebagai berikut.
1.        Survey dan pemetaan tanah
Survey dan pemetaan tanah perlu dilakukan karena berguna dalam me-nentukan sarana dan prasarana yang akan dibangun seperti jalan-jalan kebun untuk  transportasi dan kontrol, pembuatan fasilitas air, serta pembuatan peta kebun dan peta kemampuan lahan.
2.        Pembongkaran pohon dan tunggul
Pelaksanaan Pembongkaran pohon dan tunggul dapat dilakukan dengan tiga cara berikut.
a.       Pohon dan tunggul dibongkar langsung secara tuntas sampai keakar-akarnya, agar tidak menjadi sumber penyakit akar bagi tanaman teh.
b.      Pohon dapat dimatikan terlebih dahulu sebelum dibongkar dengan cara pengulitan pohon (ring barking), mulai dari batas permukaan tanah sampai setinggi 1m. setelah 6-12 bulan, pohon akan kering dan mati.
c.       Pohon dimatikan dengan penggunaan racun kimia atau aborosida seperti Natrium arsenat atau Garlon 480 P. Pada cara ini kulit batang dikupas berkeliling selebar 10-20cm, pada ketinggian 50-60 cm dari atas tanah, kemudian diberikan racun dengan dosis 1,5 g/cm lingkaran batang. Pohon akan mati setelah 6-12 bulan, yaitu setelah cadangan pati dalam akar habis. Batang ditebang pada batang leher akar dan tunggul ditimbun sedalam 10 cm dengan tanah.
1.      Pembersihan semak belukar dan gulma
Setelah dilaksanakan pembongkaran dan pembuangan pohon, semak belukar dibabat, kemudian digulung kemudian dibuang ke jurang yang  tidak ditanami teh, atau ditumpuk di pinggir lahan yang akan ditanami. Sampah tersebut tidak boleh dibakar karena pembakaran akan merusak keadaan teh, membunuh mikroorganisme tanah yang berguna, dan akan membakar humus tanah, sehingga akan menyebabkan tanah menjadi tandus. Pembersihan gulma dapat juga menggunakan bahan kimia yaitu herbisida dengan dosis yang telah tercantum dalam merk dagang.
2.      Pengolahan tanah
 Maksud pengolahan tanah adalah mengusahakan tanah menjadi subur, gembur dan bersih dari sisa-sisa akar dan tunggul, serta mematikan gulma yang masih tumbuh. Areal yang akan ditanami dicangkul sebanyak dua kali. Pencangkulan pertama dilakukan sedalam 60 cm untuk menggemburkan tanah, membersihkan sisa-sisa akar dan gulma. Sedangkan pencangkulan kedua dilakukan setelah 2-3 minggu pencangkulan pertama, dilakukan sedalam 40 cm untuk maratakan lahan.
3.      Pembuatan jalan dan saluran drainase
 Setelah pengolahan selesai selanjutnya dilakukan pengukuran dan pematokkan. Ajir/patok dipasang setiap jarak 20 m, baik kearah panjang maupun kearah lebar. Dengan demikian akan terbentuk petakan-petakan yang berukuran 20m x 20m atau seluas 400 m2.
Selesai membuat petakan selanjutnya pembuatan jalan kebun. Dalam pembuatan jalan kebun ini hendaknya dipertimbangkan faktor kemiringan lahan serta faktor pekerjaan pemeliharaan dan pengangkutan pucuk. Dengan demikian jalan kebun dibuat secukupnya, tidak terlalu banyak yang menyebabkan tanah terbuang dan tidak terlalu sedikit sehingga menyulitkan pelaksanaan pekerjaan di kebun (Darmawijaya, 1977).

Pembibitan

  Tanaman teh dapat diperbanyak secara generative maupun secara vegetative. Pada perbanyakan secara generative digunakan bahan tanam asal biji, sedangkan perbanyakan secara vegetative digunakan bahan tanaman asal setek berupa klon.Biji yang baik ditandai dengan beberapa ciri, antara lain:
a.       Kulit biji berwarna hitam dan mengkilap.
b.      Berisi penuh, dengan isi biji berwarna putih.
c.       Mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada air, sehingga apabila dimasukkan kedalam air akan tenggelam.
d.      Mempunyai bentuk dan ukuran yang normal.
e.       Tidak terserang penyakit, cendawan ataupun kepik biji.
Biji yang dipungut untuk dijadikan benih adalah biji yang telah jatuh ke tanah, dikumpulkan secara teratur setiap hari, benih yang digunakan adalah benih yang baik. Sebaiknya biji segera disemai karena daya kecambah biji teh cepat menurun dan biji teh mudah menjadi busuk.
1.      Penyemaian biji
Persiapan lahan untuk persemaian harus dilaksanakan 6 bulan sebelum penyemaian benih. Tanah dibersihkan dan dicangkul sedalam 30 cm, ke-mudian dibuat bedengan. Diantara bedengan dibuat saluran drainase untuk membuang kelebihan air. Bedengan diberi atap naungan miring timur-barat dengan sudut kemiringan 300. Pengecambahan biji dimaksudkan untuk memperoleh biji yang tumbuh seragam dan serempak sehingga memudahkan pemindahannya ke persemaian bibit atau ke kantong plastik.

2.      Pemeliharaan dipersemaian bibit asal biji
Untuk memperoleh bibit yang baik, yang tumbuh subur dan sehat serta terhindar dari gangguan hama dan penyakit, bibit dipersemaian harus dijaga dengan baik.


Pemeliharaan bibit terdiri atas:
1.      Penyiraman
2.      Penyulaman
3.      Penyiangan
4.      Pemupukan
5.      Pengendalian hama dan penyakit
6.      Pengaturan naungan

3.      Pemindahan bibit ke lapangan
Setelah bibit berumur dua tahun, benih yang mempunyai ukuran lebih besar dari pensil, dapat dibongkar untuk dipindahkan ke kebun.
Cara pembongkaran bibit adalah sebagai berikut:
a.       Dua minggu sebelum bibit dibongkar, batang dipotong setinggi 15-20 cm dari permukaan tanah.
b.      Bibit dibongkar dengan cara mencangkul tanah disekitar bibit sedalam 60 cm, selanjutnya dicabut dengan hati-hati, akar tunggang dan akar se-rabut yang terlalu panjang bisa dipotong.
c.       Bibit ini disebut bibit stump, yang sebaiknya ditanam segera pada hari itu juga di kebun yang telah dipersiapkan.
d.      Bibit yang ukuran batangnya lebih kecil dari pensil sebaiknya tidak di-gunakan.
Pertanaman teh diarahkan pada cara memperoleh produksi yang tinggi dan mantap, sehingga perusahaan perkebunan teh menjadi lebih efisien. Hal ini sulit dicapai apabila digunakan bahan tanam asal biji. Karena biji merupakan hasil per-silangan yang dapat menimbulkan perubahan sifat pada keturunannya.
Pembibitan menggunakan stek merupakan cara yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah yang banyak, dan jenis klon yang di-tentukan dapat dipastikan sifat keunggulannya sama dengan induknya. Untuk memperoleh hasil pembibitan setek berupa setek bibit yang baik, diperlukan adanya perencanaan, persiapan, dan pelaksanaan yang baik dan tepat waktu.


Adapun lokasi untuk pembibitan, diantaranya:
1.      Lokasi terbuka, drainase tanah baik dan tidak becek.
2.      Dekat dengan sumber air, untuk keperluan penyiraman.
3.      Dekat dengan sumber tanah, untuk mengisi polibag.
4.      Lebih baik bila lahan melandai kearah timur, agar mendapat sinar matahari pagi.
5.      Dekat dengan jalan agar memudahkan dalam pengawasan dan peng-angkutan ke lokasi yang akan ditanami.
 Media tanah untuk setek terdiri dari tanah lapisan atas (topsoil) dan lapisan bawah (subsoil). Syarat-syarat subsoil yang baik adalah mengandung liat yang relatif tinggi sehingga dapat menahan ataupun menyerap air lebih lama, kan-dungan pasir tidak boleh lebih dari 30%, dan bahan organik maksimal 10%. Serta pH ta-nah 4,5 – 5,6. Mengingat pentingnya penggunaan media yang steril untuk persemaian guna untuk membantu terciptanya bibit yang sehat dan layak untuk dikem-bangkan. Karena suatu kondisi media persemaian merupakan salah satu faktor dalam menentukan keberberhasilan ataupun kegagalan bibit yang dihasilkan.
 Tanah disimpan selama 4-6 minggu dalam bangunan penyimpanan, dan tanah harus tetap dalam keadaan lembab. Setelah disimpan, ayaklah tanah menggunakan ayakan kawat yang berdiameter ± 1 cm. sebelum media tanah di-masukkan kedalam kantong plastik, terlebih dahulu dicampur dulu dengan pupuk, fungisida dan tawas. Bahan campuran dan dosis untuk  media tanah dapat dilihat pada Tabel 1.
Adapun pengambilan ranting stek atau stekres mulai dapat diambil 4 bulan setelah pemangkasan. Tanda bahwa setekres matang ialah apabila pangkal stekres sepanjang ± 10 cm sudah menunjukkan warna coklat. ranting dipotong dengan pisau tajam. Satu stek terdiri dari satu lembar daun dengan ruas sepanjang 0.5 cm diatas dan 3-4 cm dibawah buku. Setek ditampung dalam satu tempat yang berisi air bersih. Stek tidak boleh direndam lebih dari 30 menit. Dari satu ranting stek hanya digunakan bagian tengahnya saja dan rata-rata diperoleh 3-4 stek yang baik untuk dijadikan bibit.
Tabel 1.  Bahan Campuran untuk Media Tanam
No
Bahan Campuran
Dosis per m3 Tanah
Keterangan
Topsoil
Subsoil
1     
2
3

4
5
6
TSP
KCl
Dithane
M  45/Manzate/Vandozep
Tawas
Vapam
Basamid
500 g
500 g
400 g

600 g
250 ml
150 g
-
-
300 g

1000 g
250 ml
150 g





Fumigan
Fumigan
Sumber: Setyamidjaja (2000).
Penanaman setek:
1.      Satu hari sebelum setek ditanam, kantong plastik/polibag yang sudah berisi tanah disiram dengan air bersih sampai cukup basah.
2.      Setek dicelupkan dalam larutan Dithane M 45 0,2% selama 1 menit dan Atonik 0,025% selama 2 menit.
3.      Setek ditanam dengan mengarah daun ke tangan si penanam. Arah daun miring ke atas dan tidak boleh saling menutupi satu sama lain.
4.      Setelah itu disiram kembali dengan air bersih secara hati-hati agar setekan tidak goyah.
5.      Bedengan ditutup dengan sungkup plastik
6.      Sungkup plastik ditutup selama 3-4 bulan tergantung pertumbuhan bibit, dan hanya dibuka untuk keperluan pemeliharaan saja setelah itu segera ditutup kembali (setelah pemeliharaan selesai)
Langkah-langkah penanaman setek sebagai berikut:
1.      Siapkan polibag berukuran 12cm x 25cm yang sudah berlubang agar memudahkan untuk membuang kelebihan air.
2.      Isi kantong plastik dengan media tanah yang sudah dibuat lebih awal dan telah matang. 1/3 bagian diisi dengan tanah bawah dan 2/3 bagian diisi dengan tanah bagian atas.
3.      Ambil setek teh yang sudah dipersiapkan dan memenuhi syarat selanjutnya ditanam dalam polibag tersebut (Chasandoerjat, 1969).

Penanaman

Dalam penanaman, hal-hal yang harus diperhatikan adalah penentuan jarak tanam yang tepat, pengajiran, pembuatan lubang tanam, teknik penanaman dan penanaman tanaman pelindung yang diperlukan.
Menurut Puslitbun Gambung (1992), jarak tanam yang dianjurkan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.  Jarak Tanam Teh
Kemiringan tanah
Jarak tanan
cm x cm x cm
Jumlah tanaman per ha
Keterangan
Datar – 15%
15–30%
>  30%
Batas tertentu
120 x 90
120 x 75
120 x 60
120x60x60
9.260
11.110
13.888
18.500
Baris tunggal lurus
Baris tunggal lurus
Kontur
Baris berganda

  Pembuatan lubang tanam dilakukan 1-2 minggu sebelum dilakukan penanaman. Lubang tanam yang dibuat tepat di tengah-tengah diantara dua ajir. Ukuran lubang tanamnya adalah:
1.      Untuk bibit asal stump biji: 30 cm x 30 cm x 40 cm.
2.      Untuk bibit stek dalam kantong plastik: 20 cm x 20 cm x 40 cm.
Ada dua kegiatan dalam proses penanaman, yaitu:
1.      Pemberian pupuk dasar
Pupuk dasar yang dianjurkan terdiri atas Urea 12,5 g + TSP 5 g + KCl 5 g per lubang. Apabila pH tanah diatas 6, maka lubang tanam diberikan belerang murni (belerang cirrus) sebanyak 10-15 g per lubang.
2.      Cara penanaman
a.       Menanam bibit stump
Bibit stump biasanya ditanam pada umur 2 tahun. Bibit ditanam dengan cara dimasukkan ke dalam lubang tanam, persis di tengah-tengah lubang, dengan leher akar tepat dipermukaan tanah. Selanjutnya lubang tanam ditimbun dan dipadatkan dengan diinjak. Bibit tidak boleh miring dan tanah di sekitar lubang tanam diratakan.
b.      Menanam bibit asal stek
Mula-mula kantong plastik disobek pada bagian bawah dan sampingnya untuk memudahkan melepaskan bibit dari plastik. Ujung kantong plastik bagian bawah yang telah sobek ditarik keatas sehingga bagian bawah kantong plastik terbuka . selanjutnya bibit dipegang dengan tangan kiri, disanggga dengan belahan bambu, kemudian dimasukkan ke dalam lubang, sementara tangan kanan menimbun lubang dengan tanah yang berada di sekitar lubang dengan menggunakan kored.
Adapun untuk penanaman pohon pelindung atau pohon naungan pertanaman teh terdiri atas pohon pelindung sementara dan pohon pelindung tetap. Untuk dataran rendah dan sedang, pohon pelindung sangat diperlukan oleh tanaman teh agar pertumbuhannya baik. Jenis – jenis pohon pelindung, yaitu :
1.      Pohon pelindung sementara
Pohon pelindung sementara adalah pupuk hijau seperti  Theprosia sp. Atau Crotalaria  sp. Penanaman pohon pelindung sementara dilakukan setelah penanaman teh selesai. Kebutuhan benih pupuk hijau tersebut adalah 10 kg-12 kg/ha.
2.      Pohon pelindung tetap
Penanaman pohon pelindung tetap diutamakan untuk daerah dengan ketinggian kurang dari 1.000 m dpl. Penggunaan pohon pelindung tetap bukan jenis Leguminoceae, ini tidak dianjurkan. Jenis pelindung yang akan ditanam harus dipilih yang memenuhi persyaratan sebagai pelindung, yaitu memilki mahkota yang baik, perakarannya dalam dan kuat, dan resistensinya terhadap serangan hama atau penyakit baik.

Agar pohon pelindung tetap berfungsi baik pada tanaman teh, pohon pelindung harus sudah dapat melindungi tanaman teh pada saat tanaman teh berumur 2-3 tahun. Untuk itu, pohon pelindung sebaiknya ditanam satu tahun sebelum dilakukan penanaman teh.

Pemeliharaan

1.        Pemeliharaan dan pemangkasan
 Tanaman teh yang belum menghasilkan mendapat naungan sementara dari tanaman pupuk hijau seperti Crotalaria sp. atau Theprosia sp. Namun sementara ini biasa ditanam selang dua baris dari tanaman teh, dan pada umur sekitar enam bulan tingginya telah mencapai lebih dari satu meter. Agar tanaman pupuk hijau ini tidak mengganggu pertumbuhan tanaman teh, perlu dilakukan pemangkasan. Pemangkasan dilakukan pada tinggi 50 cm dan sisa pangkasan dihamparkan sebagai mulsa disekitar tanaman. Pemangkasan tanaman pupuk hijau dilakukan setiap enam bulan sekali yaitu pada waktu musim hujan. Jangan melakukan pemangkasan pada musim kemarau karena pada saat itu tanaman teh muda membutuhkan naungan.
2.             Pengendalian gulma
Pengendalian teh di perkebunan teh merupakan salah satu kegiatan rutin yang sangat penting dalam pemeliharaan tanaman teh. Populasi gulma yang tumbuh tidak terkendali, akan merugikan tanaman teh karena terjadinya persaingan di dalam memperoleh unsur hara, air, cahaya matahari, dan ruang tumbuh. Jenis-jenis gulma tertentu diduga pula mengeluarkan senyawa racun (allelopati) yang membahayakan tanaman teh.
 Gulma akan menimbulkan masalah besar terutama pada areal tanaman teh muda atau pada areal tanaman teh produktif yang baru dipangkas. Hal ini sebabkan sebagian besar permukaan tanah terbuka dan secara langsung mendapatkan sinar matahari, sehingga perkecambahan maupun laju per-tumbuhan berbagai jenis gulma berlangsung sangat cepat. Pengendalian gulma pada pertanaman teh bertujuan untuk menekan serendah mungkin kerugian yang ditimbulkan akibat gulma, sehingga diperoleh laju pertumbuhan tanaman teh dan produksi pucuk yang maksimal.
3.             Pengendalian Hama dan Penyakit
  Penyakit cacar yang disebabkan oleh jamur Exobasidium VexansMassae berasal dari Assam, India. Untuk pertama kalinya penyakit ini ditemukan di Indonesia pada tahun 1949, yaitu di perkebunan Bah Butong, Sumatera Utara. Sejak saat ini penyakit cacar meluas ke hampur seluruh perkebunan teh di Indonesia, dan menjadi penyakit yang paling merugikan, terutama untuk kebun-kebun teh di dataran tinggi. Penyakit cacar dapat mengakibatkan kehilangan hasil sampai dengan 40% dan penurunan kuallitas teh jadi, yang ditandai berkurangnya kandungan theaflavin, thearubigin, kafein, substansi polimer tinggi, dan fenol total pucuk.
 Intensitas serangan 28% sudah dapat mengakibatkan penurunan kualitas teh jadi, sedangkan kehilangan hasil baru dapat terjadi pada intensitas serangan 35%. Sampai saat ini tindakkan pengendalian penyakit cacar yang paling umum dilakukan di kebun-kebun teh adalah penggunaan fungisida sintetik, terutama fungisida tembaga, karena dianggap sebagai suatu teknik pengendalian yang efektif, praktis, dan ekonomis. Pada umumnya pekebun merasa puas dengan hasil yang diperoleh, sehingga kurang memperhatikan dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari penggunaan fungisida tembaga. Kenyataan bahwa penggunaan fungisida tembaga dapat memacu per-kembangan populasi tungau atau Brevipalpus phoenicis (Martosupono, 1985).
Walaupun sampai saat ini terbukti bahwa penggunaan fungisida tembaga merupakan cara yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit cacar, namun mengingat dampak negatif yang ditimbulkannya, maka perlu dipertimbangkan untuk mulai menerapkan strategi pengendalian penyakit cacar yang meminimalkan penggunaan fungisida sintetik umumnya, dan fungisida tembaga khususnya, yaitu suatu strategi pengendalian yang tidak hanya menggantungkan diri pada penerapan satu teknik pengendalian penyakit saja, tetapi mengkombinasikan berbagai teknik pengendalian penyakit yang sesuai dan kompatibel berdasarkan pertimbangan ekologi dan ekonomi, atau yang disebut dengan pengendalian penyakit tanaman terpadu.

Pemetikan

 Pemetikan adalah pemungutan hasil pucuk tanaman teh yang memenuhi syarat-syarat pengolahan. pemetikan berfungsi pula sebagi usaha membentuk kondisi tanaman agar mampu berproduksi tinggi secara berkesinambungan. Panjang pendeknya periode pemetikan ditentukan oleh umur dan kecepatan pembentukan tunas, ketinggian tempat, iklim dan kesehatan tanaman. Pucuk teh di petik dengan periode antara 6-12 bulan. Teh hijau Jepang dipanen dengan frekuensi yang lebih lama yaitu  55 hari sekali. Di samping faktor luar dan dalam, kecepatan pertumbuhan tunas baru dipengaruhi oleh daun-daun yang tertinggal pada perdu yang biasa disebut daun pemeliharaan. Tebal lapisan daun pemeliharaan yang optimal adalah 15-20 cm, lebih tebal atau lebih tipis dari ukuran tersebut pertumbuhan akan terhambat. kecepatan pertumbuhan tunas akan mempengaruhi beberapa aspek pemetikan, yaitu: jenis pemetikan, jenis petikan, daur petik, pengaturan areal petikan, pengaturan tenaga petik, dan pelaksanaan pemetikan.
Beberapa istilah perlu diketahui baik dalam pemetikan maupun dalam menentukan rumus-rumus pemetikan. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Peko adalah kuncup tunas aktif berbentuk runcing yang terletak pada ujung pucuk, dalam rumus petikan tertulis dengan huruf p.
2.      Burung adalah tunas tidak aktif berbentuk titik yang terletak pada ujung pucuk dalam rumus petik tertulis dengan huruf b.
3.      Kepel adalah dua daun awal yang keluar dari tunas yang sebelahnya tertutup sisik. Sisik ini segera berguguran apabila daun kepel mulai tumbuh. Mula-mula tumbuh daun kecil berbentuk lonjong, licin, tidak bergerigi, biasa disebut kepel ceuli. Selanjutnya kepel ceuli diikuti oleh pertumbuhan sehelai daun kepel yang lebih besar yang disebut kepel licin. Setelah daun-daun ini terbentuk, baru diikuti oleh pertumbuhan daun yang bergerigi atau normal. Daun kepel ini dalam rumus petikan ditulis dengan huruf k.
4.      Daun biasa/normal adalah daun yang tumbuh setelah terbentuk daun-daun kepel, berbentuk dan berukuran normal serta sisinya bergerigi. Dalam rumus petik ditulis dengan angka 1,2,3,4 dan seterusnya tergantung beberapa helai daun yang terdapat pada pucuk tersebut.
5.      Daun muda adalah daun yang baru terbentuk tetapi belum terbuka seluruhnya, dan dalam rumus pemetikan ditulis dengan huruf m mengikuti angka (1m, 2m, 3m).
6.      Daun tua adalah daun yang berwarna hijau gelap, terasa keras, dan bila dipatahkan berserat. Dalam rumus pemetikan ditulis dengan huruf t mengikuti angka (1t, 2t, 3t).
7.      Manjing adalah pucuk yang telah memenuhi syarat sesuai dengan sistem pemetikan yang telah ditentukan.
Macam dan rumus petikan adalah sebagai berikut:
1.      Petikan imperial: bila yang dipetik hanya kuncup peko (p + 0).
2.      Petikan pucuk pentil: bila yang dipetik peko dan satu lembar daun dibawahnya (p + 1m).
3.      Petikan halus: bila yang dipetik peko dengan satu lembar atau dua lembar daun burung dengan satu lembar daun muda (p + 1m, b + 1m).
4.      Petikan medium: bila yang dipetik peko dengan dua lembar atau tiga lembar daun muda dan pucuk burung dengan satu, dua atau tiga lembar daun muda ( p + 2m, p + 3m, b + 1m, b + 2m, b + 3m).
5.      Petikan kasar: bila yang dipetik dengan tiga lembar daun tua atau lebih daun burung dengan satu, dua, tiga lembar daun tua (p + 3, p + 4, b + 1t, b + 2t, b + 3t).
6.      Petikan kepel: bila daun yang ditinggalkan pada perdu hanya kepel (p + n/k, b + n/k).
Jenis pemetikan yang dilakukan selama satu daun pangkas terdiri dari:
1.      Pemetikan jendangan
      Pemetikan jendangan ialah pemetikan yang dilakukan pada tahap awal setelah tanaman dipangkas, untuk membentuk bidang petik yang lebar dan rata dengan ketebalan lapisan daun pemeliharaan yang cukup, agar tanaman mempunyai potensi produksi yang tinggi.
2.      Pemetikan produksi
      Pemetikan produksi dilakukan terus menerus dengan daur petik tertentu dan jenis petikan tertentu sampai tanaman dipangkas kembali. Pemetikan produksi yang dilakukan menjelang tanaman dipangkas disebut “petikan gendesan”, yaitu memetik semua pucuk yang memenuhi syarat untuk diolah tanpa memperhatikan daun yang ditinggalkan (Kartawijaya, 1978).

Pascapanen

Pengolahan daun teh dimaksudkan untuk mengubah komposisi kimia daun teh segar secara terkendali, sehingga menjadi hasil olahan yang memunculkan sifat-sifat yang dikehendaki pada air seduhannya, seperti warna, rasa, dan aroma yang baik dan disukai. Bahan kimia yang terkandung dalam daun teh terdiri dari empat kelompok yaitu subtansi fenol (catechin dan flavanol), subtansi bukan fenol (pectin, resin. vitamin, dan mineral), subtansi aromatik dan enzim-enzim.
Daun teh yang dipetik, awal mula melewati proses pelayuan yang memakan waktu 18 jam disebuah tempat berbentuk persegi panjang bernama withered trough. Setiap 4 jam daun dibalik secara manual. Masing-masing withered trough memuat 1 sampai 1,5 ton daun teh. Fungsi dari proses pelayuan ini adalah untuk menghilangkan kadar air sampai dengan 48%.
Daun-daun teh yang sudah layu kemudian dimasukan kedalam gentong dan diangkut menggunakan monorel ke tempat proses berikutnya. Dari monorel daun-daun dimasukan ke mesin penggilingan. 1 mesin memuat 350 kg daun teh dan waktu untuk menggiling adalah 50 menit. Setelah digiling, daun teh dibawa ketempat untuk mengayak. Proses untuk mengayak ini terjadi beberapa kali dengan hasil hitungan berdasarkan jumlah mengayak: bubuk 1, bubuk 2, bubuk 3, bubuk 4, dan badag.
Sementara itu hasil ayakan terakhir yaitu badag tidak melewati proses fermentasi. Badag dan bubuk-bubuk yang telah melewati proses fermentasi kemudian dibawa ke ruangan berikutnya untuk dikeringkan. Lamanya proses pengeringan adalah 23 menit dengan suhu 100o C. Bahan bakar untuk proses pengeringan ini adalah kayu dan batok kelapa untuk rasa yang lebih enak.
Usai dikeringkan, daun dibawa ke ruangan sortasi,. Ada 3 jenis pekerjaan yang dilakukan diruangan sortasi. pertama, memisahkan daun teh yang berwarna hitam dan yang berwarna merah dengan menggunakan alat yang disebut Vibro. Kedua, memisahkan ukuran besar dan ukuran kecil. Setelah semua proses selesai dikerjakan maka teh harus diperiksa dahulu (quality control). Bila daun tersebut memenuhi standar maka akan dikemas ditempat penyimpanan sementara (disimpan didalam tong plastik berukuran besar). Bila sudah siap untuk dipasarkan, contohnya di ekspor maka  daun teh yang siap dipasarkan tersebut akan dikemas kedalam papersack (Setyamidjadja, 2000).

0 komentar:

Poskan Komentar