Sabtu, 17 Desember 2011

BUDIDAYA SAWI PUTIH


TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Sejarah Tanaman Sawi Putih

Petsai merupakan tanaman sayuran daun dari keluarga Cruciferae yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di daerah sub tropis maupun tropis. Petsai diduga berasal dari Tiongkok (Cina) dan Asia Timur. Tanaman ini telah dibudidayakan sejak 2.500 tahun yang lalu, kemudian menyebar ke Philipina dan Taiwan.

2.2.  Klasifikasi Tanaman Sawi Putih

Menurut klasifikasi dalam tatanama tumbuhan, petsai termasuk ke dalam :
Divisi               : Spermatophyta
Kelas               : Angiospermae
Sub Kelas        : Dicotyledonae
Ordo                : Papavorales
Famili              : Cruciferae atau Brassicaceae
Genus              : Brassica
Spesies            : Brassica chinensis L. atau B.campestris var. chinensis
Tanaman sawi putih termasuk tanaman sayuran cruciferae (kubis-kubisan), yang memiliki ciri daun dan bunga yang berbentuk vas kembang.  Cruciferae berbunga sempurna dengan enam benang sari yang terdapat dalam dua lingkaran. Empat benang sari dalam lingkaran dalam, sisanya dalam lingkaran luar.  Sayuran Cruciferae atau Brassicaceae meliputi beberapa genus, diantaranya ialah kubis (kol), petsai (sawi putih), sawi, dan lobak (Sunarjono, 2007).

2.3.  Morfologi Tanaman Sawi Putih

Petsai berbatang pendek hingga hampir tidak terlihat.  Daunnya bulat panjang, kasar, berkerut, rapuh serta berbulu halus dan tajam.  Urat (tulang) daun utamanya lebar dan berwarna putih.  Rasa daun petsai masak lunak, sedangkan yang mentah agak pedas. Pola pertumbuhan daun mirip tanaman kubis.  Daun yang muncul terlebih dahulu menutup daun yang tumbuh kemudian hingga membentuk krop bulat panjang yang berwarna putih.  Susunan dan warna bunganya pun seperti kubis.  Biji petsai berwarna hitam kecoklatan dengan ukuran lebih kecil dari biji kubis (Sunarjono, 2007).

2.4.  Varietas Tanaman Sawi Putih

Tanaman petsai merupakan tanaman semusim.  Hampir semua orang senang makan petsai, terutama orang-orang di Negara Cina.  Tanaman ini berasal dari Tiongkok, tetapi telah banyak diusahakan di Indonesia.  Tanaman ini merupakan tanaman sayuran yang penting setelah kubis karena rasanya enak dan sumber vitamin A, vitamin B dan vitamin C (Sunarjono, 2007).  Menurut Wahyudi (2010), tanaman ini mempunyai empat varietas, yaitu
A.      Yokohama F-1
Pertumbuhan tanaman tegak memanjang dan seragam.  Bentuk krop oval panjang dan berwarna hijau terang.  Bentuk krop padat. Berat krop rata-rata 1,5-2,5 kg. Tekstur daun renyah, sehingga cocok untuk dikonsumsi segar. Tahan ter-hadap penyakit busuk lunak. Rekomendasi ketinggian tempat penanaman 600-1.300 m dpl.  Panen pada umur 65-70 HST.  Potensi produksi 30-35 ton per hektar.
B.       Okinawa F-1
Petumbuhan tanaman sangat kuat dan seragam.  Bentuk krop silindris (oval agak bulat) dan berwarna hijau terang.  Performa krop padat, berat krop rata-rata 1,5-2,5 kg.  Tidak mudah pecah, sehingga tahan terhadap pengangkutan jarak jauh. Tahan terhadap penyakit busuk lunak.  Rekomendasi ketinggian tempat pe-nanaman 900-1.300 m dpl.  Panen pada umur 55-60 HST.  Potensi 30-55 ton per hektar.
C.       Jerri F-1
Pertumbuhan tanaman kuat dan seragam.  Berbentuk krop silindris (oval agak bulat) dan berwarna hijau terang.  Performa krop padat.  Berat krop rata-rata1,5-2,0 kg. Tahan terhadap penyakit busuk lunak dan downy mildew. Rekomendasi kertinggian tempat penanaman 500-1.500 m dpl.  Panen pada umur 55-60 HST.  Potensi produksi 25-30 ton per hektare.
D.      Leony F-1
Pertumbuhan tanaman tegak dan seragam.  Bentuk krop silindris (oval agak bulat) dan berwarna hijau terang.  Performa krop padat. Berat krop rata-rata 2-3 kg.  Tahan terhadap penyakit busuk lunak, akar gada, dan virus.  Rekomendasi ketinggian tempat penanaman 500-1.500 m dpl.  Panen pada umur 65-70 HST. Potensi produksi 30-35 ton per hektare.

2.5.  Syarat Tumbuh

Daerah yang cocok untuk penanaman sawi putih atau petsai menurut Wahyudi (2010) yaitu tipe tanah lempung sampai lempung berpasir, gembur, mengandung bahan organik, pH tanah optimum 6,0-6,8.  Ketinggian tempat 600-1.500 m dpl.  Persyaratan lain lokasi terbuka dan memperoleh sinar matahari langsung serta drainase air lancar.
Menurut Sunarjono (2007) tanaman petsai jarang ditanam di daerah dataran rendah karena tidak mau membentuk krop.  Kalaupun membentuk krop, kropnya kecil sekali atau keropos.  Waktu tanam petsai yang baik ialah menjelang akhir musim hujan (Maret) atau awal musim hujan (Oktober) karena tanaman agak tahan terhadap hujan.  Akan tetapi, perawatan tanaman pada musim hujan akan lebih berat daripada musim kemarau karena serangan ulat daun.

2.6.  Teknik Budidaya

Teknik budidaya tanaman sawi putih menurut Wahyudi (2010) yaitu :
1.      Penyiapan Bibit
a.       Persemaian Benih
Kebutuhan benih per hektare sekitar 200-250 g. Menyiapkan media se-maian berupa tanah sebanyak 2-3 bagian dan pupuk kandang matang sebanyak 1 bagian.  Campuran tanah dan pupuk kandang, selanjutnya disaring menggunakan ayakan pasir, menyiapkan  bumbungan semai, yakni semacam polibag tetapi ter-buat dari daun pisang.  Kebutuhan bumbungan untuk persemaian 34.000-35.000 buah/ha.  Siapkan tempat persemaian berupa bedengan dengan lebar 100 cm dan tinggi 15-20 cm, yang dilengkapi dengan pembatas di sisi-sisinya.  Pembatas ter-sebut dapat dibuat dari bilah bambu atau kayu. Tempat persemaian harus terbuka, mudah diawasi dan jauh dari gangguan binatang peliharaan, seperti ayam, anjing dan  kucing.
Susun bumbungan di tempat bedengan persemaian sambil mengisi media semai kedalam bumbungan. Sehari sebelum penanaman benih, siram media semai di bumbungan hingga lembap (sampai di dasar bumbungan).  Tanam benih satu per satu di tengan media bumbungan secara berurutan dari ujung ke ujung agar tidak ada yang terlewat.  Timbun permukaan  media bumbungan dengan selapis media semai setebal 0,5 cm.  Tutup bedengan persemaian dengan karung, daun pisang, atau plastik selama 3-4 hari (hingga tampak benih sudah mulai berkecambah).
b.      Perawatan Semaian
Setelah penutup dibuka dan benih sudah berkecambah, disiram secara rutin untuk menjaga kelembapan media semaian.  Jika ditemukan serangan penyakit dumping off  (bercak basah dipangkal batang yang menyebabkan bibit rebah), semprotkan fungisida benlate dengan dosis 1 g/liter air atau orthocide dengan dosis 3 g/liter air.  Tanam bibit di lahan (transplanting) setelah berdaun sejati 2 lembar (umur 18-20 hari).
2.      Pengolahan Lahan Menurut Sunarjono (2007)
Tanah  yang akan ditanami digemburkan dengan cara dicangkul sebaik-baiknya.  Tanah yang yang telah dicangkul akan menjadi remah sehingga aerasinya berjalan baik dan zat-zat beracun pun akan hilang. Selanjutnya, rumput-rumputan (gulma) dihilangkan, terutama akar alang-alang supaya akar-akar tanaman sayuran dapat tumbuh dengan bebas tanpa persaingan dan perebutan unsur hara dengan gulma.
Menurut Wahyudi (2010), jika pH tanah kurang dari 5,0 lakukan pe-ngapuran minimum 1 ton per hektare.  Untuk menaikkan 1 point pH tanah, di-perlukan 2 ton kapur pertanian (dolomit atau kalsit).  Cangkul atau bajak tanah untuk membalik dan memecah agregat tanah.
Buat bedengan dengan lebar 100-150 cm, tinggi 20-30 cm dan panjang ter-gantung keadaan lahan. Lebar parit antar bedengan 40-60 cm dengan kedalaman 30-35 cm (Susila, 2006).
3.      Pemupukan
Tanaman perlu diberikan pupuk. Jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang atau kompos. Pupuk tersebut berfungsi untuk menyediakan hara organik bagi tanaman, memperbaiki struktur tanah, dan menahan air dalam tanah. Perlu diperhatikan pula pupuk tersebut sudah tidak membusuk dan mengurangi lagi sehingga tidak menghasilkan panas, bila unsur tersebut kurang dari kebutuhan tanaman, dapat diatasi dengan penambahan pupuk buatan, biasanya berupa nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).  Sumber N diperoleh dari ZA (20% N), urea (42% N).  Sumber P diperoleh dari TSP (45% P2O5), DS (45% P2O5), SP36 (36%P2O5), atau Posfat alam (30% P2O5 dan 40% CaO).  Sementara sumber K ialah KCL (50% K2O) atau ZK (28%K2O) (Sunarjono, 2007).
4.      Penanaman
Jarak tanam 50 x 60, lubang tanam dibuat sesuai jarak tanam  sedalam cangkul  atau dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm.  Waktu tanam yang baik pada pagi dan sore hari.  Pilih bibit yang segar dan sehat.  Bibit segera ditanam pada lubang tanam dengan memberi tanah halus sedikit demi sedikit dan tekan tanah perlahan agar benih berdiri tegak.  Siram bibit dengan air sampai basah benar (Susila, 2006).
5.      Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan dilakukan 2 kali pada umur 2 dan 4 minggu.  Cara pemberian pada larikan atau melingkari tajuk tanam sejauh 15-20 cm sedalam 10-15 cm, kemudian ditutup tanah.  Perkiraan dosis dan waktu aplikasi ditutup tanah.  Perkiraan dosis dan waktu aplikasi pemupukan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekomendasi Pupuk untuk Petsai pada Tanah Mineral dengan Tingkat Kandungan P dan K Sedang
Umur
Urea
ZA
SP36
KCL
Target pH
Kg/ha/musim tanam
6,5
Preplant
109
233
311
112
-
2 MST
54
117

56
-
4 MST
54
117

56
-
Sumber : Maynard dan Hocmuth, 1999 dalam Susila, 2006.
 MST = Minggu Setelah Tanam
6.      Pemeliharaan
a.       Penjarangan dan penyulaman
Penjarangan hanya dilakukan sekali saat penyemaian, yaitu saat berumur 10-15 hari.  Penyulaman hampir tidak dilakukan karena umur tanaman yang pendek (2-3 bulan) (Susila, 2006).  Jika ada tanaman yang mati, segera ganti dengan bibit yang baru (Wahyudi, 2010).


b.      Penyiangan atau Sanitasi Lahan
Dilakukan 1-2 kali sebelum pemupukan dan sama dengan penggemburan tanah pada waktu tanam berumur 2 dan 4 minggu dengan hati-hati karena dapat merusak sistem perakaran tanaman (Susila, 2006). melakukan penyiangan gulma di sekitar tanaman, termasuk di selokan. Selain sebagai pesaing tanaman pokok dalam menyerap unsur hara dari tanah, gulma bisa menjadi tempat berkembang biak hama ulat (Wahyudi, 2010).
c.       Pengairan dan Penyiraman
Pada fase awal pertumbuhan, dilakukan 1-2 kali sehari terutama pada musim kemarau dan berangsur-angsur dikurangi.  Waktu penyiraman pagi atau sore hari dengan gembor, dengan selang atau cara dileb (Susila, 2006). Lakukan penyiraman atau pengairan secara rutin (Wahyudi, 2010).
d.      Penyemprotan Pestisida
Dilakukan sebelum hama menyerang tanaman atau rutin 1-2 minggu sekali dengan ringan. Jenis dan dosis pestisida yang digunakan tergantung dengan hama yang dikendalikan dan tingkat populasi hama tersebut (Susila, 2006).
7.      Hama dan Penyakit Utama pada Sawi Putih
a.       Ulat Tanah (Agrotis sp.)
Ulat yang berwarna cokelat sampai cokelat kehitaman ini menyerang tanaman kecil setelah ditanam di lahan.  Serangan biasanya dilakukan pada malam hari, karena prilaku ulat ini takut sinar matahari.  Pangkal batang tanaman yang masih sangat sukulen digerek hingga putus, menyebabkan tanaman mati karena sudah tidak memiliki titik tumbuh.  Pencegahannya yaitu lakukan sanitasi lahan secara benar, termasuk pada galengan atau parit disekitar lahan.  Pem-berantasannya yaitu jika ditemukan gejala awal segera berantas dengan insektisida granul.  Taburkan sedikit insektisida tersebut disamping pokok tanaman. Dosisnya 0,3—0,4 pertanaman atau 6 kg insektisida granul per hektare.
b.      Ulat Perusak Daun ( Plutella xylostella)
Ulat kecil berwarna hijau muda.  Panjang tubuhnya sekitar 7-10 mm.   Ulat ini suka bergerombol saat menyerang tanaman dan lebih menyukai pucuk tanaman.  Akibatnya, daun muda dan pucuk tanaman berlubang.  Jika serangan sudah sampai ke titik tumbuh tunas, proses pembentukan krop akan sangat terganggu. Lebih parah lagi, krop tidak terbentuk.   Pencegahannya dengan cara melakukan sanitasi (penyiangan) lahan dengan baik.  Pemberantasannya yaitu jika serangan hama ini sudah tampak, segera semprot dengan insektisida yang tepat.  Insektisida yang bisa dipakai diantaranya March 50 EC, Proclaim 5 SG, Decis 2,5 EC, dan Buldok 25 EC. Gunakan sesuai dosis anjuran di label kemasan.
c.       Downy Mildew (Pseudoperonospora sp.)
Penyakit ini suka menyerang tanaman sawi putih.  Gejala awal, muncul bercak kuning dengan bentuk kotak-kotak mengikuti alur tulang daun.  Bercak ini dimulai dari daun tua, semakin lama, daun yang menguning semakin lebar mengarah ke daun yang lebih muda di atasnya.   Pencegahannya yaitu hindari me-nanam sawi putih berdekatan dengan tanaman yang berumur lebih tua dan ter-serang penyakit ini.  Perbaiki drainase lahan, terutama pada musim hujan.  Lakukan sanitasi lahan secara rutin.
Pemberantasannya yaitu jika tampak gejala awal, segera semprot dengan fungisida yang tepat.  Arahkan mata spray ke permukaan daun atas ataupun bawah.  Fungisida yang dapat digunakan antara lain Anvil 50 SC, Nimrod 250 EC dan Score 250 EC.  Gunakan sesuai dosis anjuran di label kemasan.
d.      Penyakit Akar Gada (Plasmodiuphora brassicae)
Penyakit ini menyerang perakaran tanaman.  Gejala penyakit, semula tanaman tampak layu hanya pada siang hari yang cerah dan panas. sebaliknya, pada pagi hari kondisi segar.  Pertumbuhan tanaman terhambat. Jika tanaman di-cabut akan tampak benjolan-benjolan besar seperti kanker di perakaran.  Bila tingkat serangannya sudah parah, tanaman sama sekali tidak bisa berproduksi.  Pencegahannya, yaitu hindari menanam di lahan bekas sawi putih dan familinya (brokoli, bunga kol, kubis dan sebagainya) yang terindikasi serangan penyakit ini.  Melakukan pergiliran tanaman, terutama dengan jagung dan kacang-kacangan untuk memutus rantai hidup fungi penyebab penyakit.
Pemberantasannya yaitu hingga saat ini belum ditemukan fungisida untuk memberantas penyakit akar gada, khususnya setelah tanaman terserang.  Melakukan pengawasan dan pencegahan secara ketat agar usaha tani sawi putih berhasil.

8.      Panen dan Pascapanen
Ciri petsai yang siap panen adalah krop berukuran besar dan kompak, umur panen 25-65 hari ( tergantung varietas).  Cara panen dengan memotong bagian batang diatas tanah dengan pisau tajam.  Tanaman yang baik dan tidak terserang hama dan penyakit, berproduksi 2-3 kg per tanaman (Simanjuntak, 1994 dalam Susila, 2006) atau 25-60 ton/ha (Rukmana, 1994 dalam Susila, 2006), tergantung varietas dan jumlah populasi tanaman.
Kumpulkan hasil panen di tempat yang teduh dan terlindung dari hujan dan panas.  Pasar supermarket menginginkan pengemasan khusus.  Berikut terhadap pengerjaannya.
-        Kupas lembaran-lembaran daun yang berwarna hijau di krop hingga tampak berwarna putih kehijauan sampai putih.
-        Ratakan batang di dasar krop menggunakan pisau tajam.
-        Bungkus krop dengan plastik wrapping.  Satu buah krop dalam satu bauh kemasan.
-        Susun rapi krop di dalam boks plastik untuk selanjutnya dikirim ke supermarket.
Pasar tradisional tidak memerlukan kemasan khusus.  Pengupasan krop tidak dilakukan.  Daun hijau yang membungkus krop untuk sementara dibiarkan.  Tujuannya, untuk menghindari gesekan saat pengangkutan. Biasanya setelah sampai di tempat penampungan, pengupasan baru dilakukan lebih bersih (Wahyudi, 2010).

3 komentar:

  1. daftar pustakanya kok gk ad bos???
    ksh daftar pustaka donk bos....

    BalasHapus
  2. ini mana daftar pustakanya sobat?

    BalasHapus