Kamis, 24 November 2011

BUDIDAYA TANAMAN KARET


Klasifikasi Tanaman Karet

Genus tanaman karet terdiri atas 20 spesies yang keseluruhannya berasal dari lembah Amazon.  Beberapa di antara spesies tersebut mempunyai morfologi dan sitologi yang berbeda yakni Hevea brasiliensis, Hevea spruceana, Hevea benthamiana, Hevea pauciflora dan Heveaa rigidifolia. Spesies yang mampu memproduksi lateks adalah Hevea brasiliensis Muell Arg (Anwar, 2001).
 Klasifikasi botani tanaman karet  Hevea brasiliensis Muell Arg termasuk pada  Famili Euphorbiaceae, Genus Hevea, Spesies Hevea brasiliaensis Muell Arg. Karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Batang tanaman mengandung getah yang dinamakan lateks. Daun karet berwarna hijau terdiri dari tangkai daun. Panjang tangkai daun utama 3-20 cm. Panjang tangkai anak daun sekitar 3-10 cm dan ujungnya bergetah. Biasanya ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung meruncing. Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah.  Jumlah biji biasanya ada tiga kadang enam sesuai dengan jumlah ruang. Akar tanaman karet merupakan akar tunggang. Akar tersebut  mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar (Anwar, 2001).

Syarat Tumbuh Tanaman Karet

Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zona antara 1500 LS dan 1500 LU. Pertumbuhan tanaman karet diluar tersebut agak terhambat sehingga mulai produksinya juga terlambat. Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm sampai 4.000 mm/tahun, dengan hari hujan berkisar100 - 150HH/tahun. Jika sering hujan pada pagi hari produksi akan berkurang,  hal tersebut dikarenakan jika penyadapan pada waktu hujan kualitas lateks encer.
Tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 meter dari permukaan laut (m dpl ). Ketinggian > 600 m dpl  tidak cocok untuk pertumbuhan tanaman karet. Suhu optimal diperlukan berkisar antara 25o C sampai 35o C.  Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih mempersyaratkan sifat fisik tanah dibandingkan dengan sifat kimianya. Hal tersebut disebabkan perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya.
 Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan pada tanah gambut < 2 m. Tanah vulkanis mempunyai sifat fisika yang cukup baik terutama struktur, tekstur, solum, keda-laman air tanah, aerasi dan drainasenya, tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik karena kandungan haranya rendah. Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya terutama drainase dan aerasinya kurang baik. Reaksi tanah berkisar antara pH 3, 0 - pH 8,0 tetapi tidak sesuai pada pH < 3,0 dan > pH 8,0 (Anwar, 2001).

Teknik Budidaya

Pembibitan Tanaman

Hal yang paling penting dalam penanaman karet adalah bibit/bahan tanam, dalam hal tersebut bahan tanam yang baik adalah  berasal dari tanaman karet okulasi, dikarenakan bibit hasil okulasi klon yang digunakan jelas asal-usulnya.  Persiapan bahan tanam dilakukan paling tidak 1,5 tahun sebelum penanaman.  Bahan tanaman yang perlu disiapkan adalah batang bawah (root stoct), entres/batang atas (budwood), dan okulasi (grafting) pada penyiapan bahan tanam (Khaidir, 1996).
Persiapan batang bawah merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh ba-han tanam yang mempunyai perakaran kuat  dan daya serap hara yang baik. Untuk mencapai kondisi tersebut, diperlukan pembangunan  pembibitan batang bawah yang memenuhi syarat teknis yang  mencakup persiapan  tanah  pembibitan, pena-nganan benih,  perkecambahan,  penanaman kecambah, serta usaha pemeliharaan tanaman di pembibitan. Untuk mendapatkan bahan tanam hasil okulasi yang baik diperlukan entres yang baik, pada dasarnya mata okulasi dapat diambil dari dua sumber yaitu  entres cabang dari kebun produksi atau entres dari kebun entres. Perbedaan keduanyaa adalah  entres dari kebun produksi merupakan kebun yang telah memproduksi lateks, sementara kebun entres merupakan kebun yang di gunakan untuk menyediakan batang atas khusus tanpa memproduksi lateks.  Sebaiknya untuk sumber mata okulasi dipilih dari kebun entres murni, karena entres cabang akan menghasilkan tanaman yang pertumbuhannya tidak seragam dan keberhasilan okulasinya rendah (Khaidir, 1996). Okulasi merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata entres dari satu tanaman ke tanaman sejenis dengan tujuan mendapatkan sifat yang unggul (Khaidir, 1996). 
Hasil okulasi akan diperoleh bahan tanam karet unggul berupa stum mata tidur, stum mini, bibit dalam polybag, atau stum tinggi. Untuk tanaman karet, mata entres tersebut yang merupakan bagian atas dari tanaman dan dicirikan oleh klon yang digunakan sebagai batang atasnya.
Penanaman bibit tanaman karet harus tepat waktu untuk menghindari tingginya angka kematian di lapang. Waktu tanam yang sesuai adalah pada musim hujan, dikarenakan jika penanaman pada awal musim hujan sumber air tersedia, sehingga tanaman tidak mengalami kekeringan.  Selain itu perlu disiapkan tenaga kerja untuk kegiatan  pembuatan lubang tanam, pembongkaran, pengangkutan, dan penanaman bibit. Bibit yang sudah di bongkar sebaiknya segera ditanam dan tenggang waktu yang diperbolehkan paling lambat satu malam setelah pem-bongkaran (Khaidir,1996).

Pembukaan lahan (Land Clearing)
Lahan tempat tumbuh tanaman karet harus bersih dari sisa-sisa tumbuhan  sehingga jadwal pembukaan lahan harus disesuaikan dengan jadwal penanaman. Kegiatan pembukaan lahan  meliputi  pembabadan semak belukar,  penebangan pohon, perencanaan dan pemangkasan, pendongkelan akar kayu, penumpukan dan pembersihan. Seiring dengan pembukaan lahan tersebut dilakukan penataan lahan dalam blok-blok, penataan jalan-jalan kebun  dan penataan saluran drainase dalam perkebunan (Anwar, 2001).

Persiapan Lahan Penanaman
Lahan yang akan digunakan sebagai lokasi penanaman tanaman karet  juga diperlukan pelaksanaan dalam berbagai kegiatan yang secara sistematis dapat menjamin kualitas lahan yang sesuai dengan persyaratan. Kegiatan persiapan la-han pertanaman karet di antaranya  pemberantasan alang-alang dan gulma lain. Lahan yang telah selesai tebas, tebang dan lahan lain yang mempunyai vegetasi alang-alang, dilakukan pemberantasan alang-alang dengan menggunakan Her-bisida  kimia antara lain Round up, Scoup, Dowpon atau Dalapon (Sugito, 2007).

Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah untuk pertanaman karet dapat dilaksanakan dengan sistem minimum tillage, yakni dengan membuat larikan antara barisan satu meter dengan cara mencangkul selebar 20 cm. Pengolahan tanah secara mekanis untuk lahan tertentu dapat dipertimbangkan dengan tetap menjaga kelestarian dan kesuburan tanah (Anwar, 2001).

Pengajiran
Pada dasarnya pemancangan ajir adalah untuk menentukan tempat lubang tanaman dengan ketentuan jarak tanaman disesuaikan dengan kondisi lahan.  Pada  lahan yang relatif datar  jarak tanam adalah 7 m x 3 m (476 lubang/hektar) berbentuk barisan lurus mengikuti arah Timur - Barat berjarak 7 m dan arah Utara  Selatan berjarak 3 m. Hal tersebut supaya intensitas cahaya matahari yang masuk ke pertanaman karet lebih besar.   Lahan bergelombang atau berbukit jarak tanam 8 m x 2,5 m (500 lubang/ha). Bahan ajir dapat menggunakan potongan bambu tipis dengan ukuran 20 cm – 30 cm. Pada setiap titik pemancangan ajir tersebut merupakan tempat penggalian lubang untuk tanaman (Cahyono, 2010).

Pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang untuk tanaman dibuat 60 cm x 60 cm bagian atas, dan 40 cm x 40 cm bagian dasar dengan kedalaman 60 cm. Pada waktu membuat lubang tanam, tanah bagian atas (top soil) diletakkan di sebelah kiri dan tanah bagian bawah (sub soil) diletakkan di sebelah kanan lubang tanaman dibiarkan selama 1 bulan sebelum bibit karet ditanam (Anwar, 2001).




Seleksi dan Penanaman Bibit
Sebelum bibit ditanam,  dilakukan seleksi bibit untuk memperoleh bahan ta-nam yang memiliki sifat-sifat umum yang baik antara lain  produksi tinggi, res-ponsif terhadap stimulasi hasil, resisten terhadap serangan hama dan penyakit daun dan kulit, serta pemulihan luka kulit yang baik. Beberapa syarat yang harus dipenuhi bibit siap tanam adalah antara lain :
- bibit karet di polybag mempunyai satu atau dua daun payung,
- mata okulasi benar-benar baik dan telah mulai bertunas,
- akar tunggang tumbuh baik dan mempunyai akar lateral,
- bebas dari penyakit jamur akar (Jamur Akar Putih).

Kebutuhan Bibit
   Jarak tanam 7 m x 3 m untuk tanah landai, diperlukan bibit tanaman karet  sebanyak 476 bibit, dan cadangan untuk penyulaman sebanyak 47 (10%) se-hingga untuk setiap hektar kebun diperlukan sebanyak 523 batang bibit karet.

Penanaman
Pada umumnya penanaman karet di lapangan dilaksanakan pada musim penghujan antara September sampai Desember curah hujan cukup banyak, dan hari hujan telah lebih dari 100 hari.  Pada saat penanaman, tanah penutup lubang digunakan top soil yang telah dicampur dengan pupuk Urea 50 gram dan SP36 sebesar 100 gram sebagai pupuk dasar. Tujuan  pemberian pupuk dasar bagi  karet  adalah menyediakan unsur hara yang dibutuhkan bagi pertumbuhan vegetatif dan generatif  tanaman khususnya tanaman yang baru tumbuh dilapangan sehingga produksi yang dihasilkan lebih baik (Anwar, 2001).

Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi pengendalian gulma, pemupukan dan pemberantasan penyakit tanaman. Areal pertanaman karet, baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus bebas dari gulma seperti alang-alang (Imperata cylindrica), Mikania micrantha, eupatorium (Eupatorium sp), sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik (Anwar, 2001).
Pemupukan
Pupuk dasar yang telah diberikan pada saat penanaman, program pemu-pukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus dilakukan dengan dosis yang seimbang, dua kali pemberian dalam setahun. Jadwal pemupukan pada semester I yakni pada Januari/Februari dan pada semester II yaitu Juli/Agustus.
Seminggu sebelum pemupukan, gawangan lebih dahulu digaru dan piringan tanaman dibersihkan. Pemberian SP36 biasanya dilakukan dua minggu lebih dahulu dari Urea dan KCl, dikarenakan SP36 sukar larut dalam air dan tidak higroskopis sehingga pemberiannya lebih awal (Hardjono, 1979).  
Cara pemupukan tanaman karet ada dua macam yaitu dengan cara manual circle dan chemical strip weeding. Pemupukan dengan cara manual dilakukan dengan membuat saluran melingkar di sekitar pohon dengan jarak disesuaikan dengan umur tanaman. Umur 3-5 bulan saluran dibuat melingkar dengan jarak 20-30 cm dari tanaman. Umur 6-10 bulan jarak dari tanaman 20-45 cm. Pemupukan dengan cara chemical strip dilakukan dengan cara meletakkan pupuk diluar jarak 1-1,5 meter dari barisan tanaman (Sugito, 2007).
 Pemberian pupuk tidak dilakukan pada waktu hujan karena akan cepat tercuci oleh air hujan. Pemberian pupuk dilakukan  pada pergantian musim hujan ke musim kemarau ( Sugito, 2007).  Program dan dosis pemupukan tanaman karet belum menghasilkan dan tanaman menghasilkan secara umum dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2 sebagai berikut.
Tabel 1. Rekomendasi Umum Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan
Umur Tanaman
Urea (g/ph/th
SP36 (g/ph/th)
KCl (g/ph/th)
Frekuensi Pemupukan
1 tahun
250
150
100
2 kali/tahun
2  tahun
250
250
200
2 kali/tahun
3 tahun
250
250
200
2 kali/tahun
4 tahun
300
250
250
2 kali/tahun
5 tahun
300
250
250
2 kali/tahun
Sumber : Anwar,  (2001)



Tabel 2. Rekomendasi Umum Pemupukan Tanaman Menghasilkan
Umur tanaman
Urea (g/ph/th)
SP36 (g/ph/th)
KCl  (g/ph/th)
Frekuensi Pemupukan
6-15 tahun
350
260
300
2 kali/tahun
16-25   Tahun
300
190
250
2 kali/tahun
>25 tahun
200
-
150
2 kali/tahun
Sumber : Anwar,  (2001)

Pemberantasan Penyakit Tanaman
Penyakit karet sering menimbulkan kerugian ekonomis di perkebunan karet. Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya berupa kehilangan hasil akibat kerusakan, tanaman, tetapi juga biaya yang dikeluarkan dalam upaya pengendaliannya.
Oleh karena itu langkah-langkah pengendalian secara terpadu dan efisien guna memperkecil kerugian akibat penyakit tersebut perlu dilakukan.  Lebih dari 25 jenis penyakit menimbulkan kerusakan di perkebunan karet. Penyakit tersebut dapat digolongkan berdasarkan nilai kerugian ekonomis yang ditimbulkan (Anwar, 2001). Penyakit tanaman karet yang umum ditemukan pada perkebunan adalah :
v  Jamur Akar Putih (Rigidoporus microporus)
Penyakit akar putih disebabkan oleh jamur Rigidoporus micro-porus (Rigidoporus lignosus). Penyakit tersebut mengakibatkan ke-rusakan pada akar  tanaman. Gejala pada daun terlihat pucat kuning dan tepi atau ujung daun terlipat ke dalam, kemudian daun gugur dan ujung ranting menjadi mati. Ada kalanya terbentuk daun muda, atau bunga dan buah lebih awal. Pada perakaran tanaman sakit tampak benang-benang jamur berwarna putih dan agak tebal (rizomorf).
Jamur kadang-kadang membentuk badan buah mirip topi berwarna jingga kekuning-kuningan pada pangkal akar tanaman. Pada serangan berat, akar tanaman menjadi busuk sehingga tanaman mudah tumbang dan mati. Kematian tanaman sering merambat pada tanaman tetangganya. Penularan jamur biasanya berlangsung melalui kontak akar tanaman sehat ke tunggul - tunggul, sisa akar tanaman atau perakaran tanaman sakit. Serangan jamur akar putih sering dijumpai pada tanaman karet umur 1-5 tahun.  Pengendalian tanaman yang terkena jamur akar putih, sebaiknya dilakukan pada waktu serangan dini untuk mendapatkan keberhasilan pengobatan dan mengurangi resiko kematian tanaman. Bila pengendalian dilakukan pada waktu serangan lanjut maka keberhasilan pengendalian hanya mencapai di bawah 80%.

v  Kekeringan Alur Sadap (Tapping Panel Dryness, Brown Bast)
Penyakit kekeringan alur sadap mengakibatkan kekeringan alur sadap sehingga tidak mengalirkan lateks, namun penyakit tersebut tidak mematikan tanaman. Penyakit tersebut disebabkan oleh penyadapan yang terlalu sering, terlebih jika disertai dengan penggunaan bahan perangsang lateks ethepon. Adanya kekeringan alur sadap mula-mula ditandai dengan tidak mengalirnya lateks pada sebagian alur sadap. Kemudian dalam beberapa minggu saja keseluruhan alur sadap ini kering tidak me-ngeluarkan lateks. Bagian yang kering akan berubah warnanya menjadi cokelat karena pada bagian ini terbentuk gum (blendok).
Kekeringan kulit tersebut dapat meluas ke kulit lainnya yang seumur, tetapi tidak meluas dari kulit perawan ke kulit pulihan atau sebaliknya. Gejala lain yang ditimbulkan penyakit tersebut adalah ter-jadinya pecah-pecah pada kulit dan pembengkakan atau tonjolan pada batang tanaman.
Pengendalian penyakit tersebut dilakukan dengan menghindari pe-nyadapan yang terlalu sering dan mengurangi pemakaian Ethepon ter-utama pada klon yang rentan terhadap kering alur sadap yaitu BPM 1, PB 235, PB 260, PB 330, PR 261 dan RRIC 100.  Etephon merupakan se-nyawa kimia jenis konvensional berbahan aktif 2-chloroethyl phosponic acid (etephon).  Ethepon berfungsi sebagai perangsang pengeluaran lateks pada tanaman karet (Anwar, 2001).
Bila terjadi penurunan kadar karet kering yang terus menerus pada lateks yang dipungut serta peningkatan jumlah pohon yang terkena kering alur sadap sampai 10% pada seluruh areal, maka penyadapan diturunkan intensitasnya dari 1/2S d/2 menjadi 1/2S d/3 atau 1/2S d/4, dan peng-gunaan Ethepon dikurangi atau dihentikan untuk mencegah agar pohon-pohon lainnya tidak mengalami kering alur sadap.
Pengerokan kulit yang kering sampai batas 3-4 mm dari kambium dengan memakai pisau sadap atau alat pengerok. Kulit yang dikerok dioles dengan bahan perangsang pertumbuhan kulit NoBB atau Antico F-96 sekali satu bulan dengan 3 ulangan. Pengolesan NoBB harus diikuti dengan penyemprotan pestisida Matador 25 EC pada bagian yang dioles sekali seminggu untuk mencegah masuknya kumbang penggerek.
Penyadapan dapat dilanjutkan di bawah kulit yang kering atau di panel lainnya yang sehat dengan intensitas rendah (1/2S d/3 atau 1/2S d/4).  Penggunaan Ethepon dihindarkan pada pohon yang kena kekeringan alur sadap. Pohon yang mengalami kekeringan alur sadap perlu diberikan pupuk ekstra untuk mempercepat pemulihan kulit (Anwar, 2001).

 

Teknik Penyadapan/Panen

Penyadapan adalah salah satu kegiatan membuka pembuluh lateks agar la-teks yang berada di dalam pembuluh tanaman karet keluar. Hal tersebut dapat di-lakukan dengan cara mengiris kulit dengan ketebalan tertentu yang arahnya tegak lurus dengan pembuluh lateks. Hal - hal yang perlu dipertimbangkan dalam pe-nyadapan adalah produksi yang banyak dan sustain (berkelanjutan) serta biaya penyadapan murah dan tidak terlalu banyak memakan kulit.
Produksi lateks dari tanaman karet selain ditentukan oleh keadaan tanah dan pertumbuhan tanaman, klon unggul, juga dipengaruhi oleh teknik dan ma-najemen penyadapan. Apabila ketiga kriteria tersebut dapat terpenuhi, maka diharapkan tanaman karet pada umur 5 - 6 tahun telah memenuhi kriteria matang sadap. Kriteria matang sadap antara lain apabila keliling lilit batang pada ke-tinggian 130 cm dari permukaan tanah telah mencapai minimum 45 cm. Jika 60% dari populasi tanaman telah memenuhi kriteria tersebut, maka areal pertanaman sudah siap dipanen (Anwar, 2001).

Tinggi Bukaan Sadap  dan Ketebalan Irisan Sadap

Tinggi bukaan sadap, baik dengan sistem sadapan ke bawah (Down wardtapping) adalah 130 cm diukur dari permukaan tanah. Tebal irisan sadap yang dianjurkan adalah 1,5 - 2 mm. Konsumsi kulit per bulan atau per tahun ditentukan oleh rumus sadap. Contoh rumus sadap S/2, d/2, 100%. Artinya dari rumus tersebut adalah S/2 berarti penyadapan setengah lingkaran batang pohon, d/2 artinya pohon karet disadap dua hari sekali dan 100% artinya intensitas sadapan. Bila disadap setiap 2 hari sekali, maka kulit karet yang terpakai 2,5 cm/bulan atau 10 cm/kuartal (Sugito, 2007).

Waktu Bukaan Sadap

Waktu bukaan sadap adalah 2 kali dalam setahun yaitu pada  permulaan musim hujan (Juni) dan permulaan masa intensifikasi sadapan (Oktober). Oleh karena itu, tidak serta merta tanaman yang sudah matang sadap dapat langsung disadap, tetapi harus menunggu waktu tersebut di atas tiba (Anwar, 2001).

Kemiringan Irisan Sadap

Secara umum, permulaan sadapan dimulai dengan sudut kemiringan irisan sadapan sebesar 40o dari garis horizontal. Pada sistem sadapan bawah, besar sudut irisan akan semakin mengecil hingga 30o bila mendekati "kaki gajah" (pertautan bekas okulasi). Pada sistem sadapan ke atas, sudut irisan akan semakin membesar (Anwar, 2001).

Peralihan Tanaman dari TBM ke TM

Secara teoritis, apabila didukung dengan kondisi pertumbuhan yang sehat dan baik, tanaman karet telah memenuhi kriteria matang sadap pada umur 5 – 6 tahun. Dengan mengacu pada patokan tersebut, berarti mulai pada umur 6 tahun tanaman karet dapat dikatakan telah merupakan tanaman menghasilkan atau TM.

Sistem Sadap

 Sistem sadap telah berkembang dengan mengkombinasikan intensitas sadap rendah disertai stimulasi Ethrel selama siklus penyadapan. Ethrel merupakan stimulan dengan bahan aktif Ethepon untuk memperpanjang lama aliran lateks atau meningkatkan produksi harian (Anwar, 2001). Mengingat kondisi sosial ekonomi petani, maka dianjurkan menggunakan sistem sadap konvensional. Sistem penyadapan tanaman karet dijelaskan pada Tabel 3.


Tabel 3. Bagan Penyadapan Tanaman Karet
Tanaman
Umur (tahun)
Sistem Sadap
Jangka Waktu
Bidang Sadap
Remaja
0-5
-
-
-
Teruna
6-7
s/2 d/3 67%
2
A
8-9
s/2 d/2 100%
3
A
Dewasa
11-15
s/2 d/2 100%
4
B
16-20
s/2 d/2 100%
4
A’
Setengah Tua
21-28
2 s/2 d/3 133%
8
B’+AH
Tua
29-30
2 s/2 d/3 133%
4
A”+BH
Sumber: Anwar, (2001)

Keterangan:
A             : Kulit Murni Bidang A
B             : Kulit Murni Bidang B
A’            : Kulit Pulihan Pertama A
A”           : Kulit Pulihan kedua A                                                                         
B’            : Kulit Pulihan Pertama B
AH          : Kulit Murni atas A
BH          : Kulit Murni aatas B


Estimasi Produksi

Produksi lateks per satuan luas dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain klon karet yang digunakan, kesesuaian lahan, agro-klimatologi, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan, sistem dan manajemen sadap. Asumsi bahwa pengelolaan kebun plasma dapat memenuhi seluruh kriteria yang telah dikemukakan dalam kultur teknis karet di atas, maka estimasi produksi dapat dilakukan dengan mengacu pada standar produksi yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat atau Balai Penelitian Perkebunan yang bersangkutan (Anwar, 2001).

Pascapanen/Penampungan Hasil

            Kualitas lateks yang dihasilkan, kualitasnya sangat dipengaruhi oleh pe-nanganan lateks mulai dari penyadapan sampai dengan pengolahan. Mutu bahan olah karet dapat dilihat melalui DRC (Dry Rubber Contain) atau KKK (Kadar karet kering).  Kadar karet kering adalah kandungan padatan karet per satuan berat (%), sangat penting untuk diketahui karena selain dapat digunakan sebagai pedoman penentuan harga, juga merupakan standar dalam pemberian bahan kimia untuk pengolahan RSS (Ribbed Smoked Sheet), TPC dan lateks pekat. Semakin tinggi nilai DRC maka kualitas bahan olah karet akan semakin  baik.
            Untuk memperoleh bahan olah yang berkualitas ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
1.    bahan pembeku yang digunakan harus dalam dosis yang tepat,
2.    tidak ditambah bahan – bahan non karet dalam pembekuan,
3.    tempat penyimpanan harus teduh dan ternaungi,
4.    tidak boleh direndam,
5.    tempat pengumpulan harus terdapat sirkulasi udara yang baik.

          Jenis bahan olah karet yang dikenal adalah lateks kebun, lump dan slab.  Lateks kebun adalah getah yang diperoleh dari pohon karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) melalui pelukaan kulit, berupa cairan berwarna  putih dan berbau segar. Lateks kebun mempunyai komposisi berupa campuran partikel karet dan
bahan karet.  Bahan bukan karet berupa protein, karbohidrat, lemak dan ion-ion logam yang dapat menjadi media tumbuh bakteri.  Oleh karena itu, penanganan lateks mulai dari pohon sampai pengangkutan ke pabrik harus dilakukan dengan baik agar bahan olah karet yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang diing-inkan.
          Prinsip penanganan bahan olah karet di antaranya adalah menjaga keber-sihan setiap peralatan yang digunakan dalam proses penyadapan sampai pengangkutan ke pabrik.  Selain itu, penambahan bahan pengawet juga harus sesuai dengan jenis produk yang akan dihasilkan. Penyimpanan lateks kebun adalah dengan meng-gunakan tangki berkapasitas 1000 kg dan dicampur dengan 7 kg amonia yang di larutkan dalam 400 – 600 cc zat anti basi yang berfungsi untuk mencegah koagulasi (penggumpalan). Getah yang akan dimasukkan kedalam tangki adalah getah yang mempunyai DRC 100 yang diukur dengan Metrolug (Ghoni, 2008).
          Lump adalah gumpalan karet di dalam mangkok sadap atau penampung lain yang diproses dengan cara penggumpalan dengan asam semut atau bahan peng-gumpal lain atau penggumpalan alami. Penggumpalan dilakukan dengan me-nambahkan bahan penggumpal larutan 5% ke dalam mangkok setelah pohon disadap dengan dosis 60 – 80 ml/l lateks. Produksi per pohon berkisar antara 150 – 350 ml maka penambahan penggumpal per mangkok adalah 10 – 25 ml.
Penambahan penggumpal lebih baik dilakukan setelah lateks berhenti menetes dari bidang sadap, sehingga volume setiap mangkok lebih mudah di-taksir. Pengutipan lump mangkok di lapangan dapat dilakukan pada sore hari atau pada saat akan menderes kembali. Lump mangkok yang telah terkumpul harus disimpan di atas anjang-anjang kayu agar air di dalam koagulum dapat menetes dan kebersihan lebih terjaga.  Kegiatan tersebut dilakukan seterusnya sampai saat penjualan.
           Slab adalah gumpalan yang berasal dari lateks kebun yang sengaja digum-palkan dengan asam semut atau bahan penggumpal lain atau dari lump mangkok segar yang direkatkan dengan atau tanpa lateks. Untuk membuat slab, terlebih dahulu lateks kebun dikumpulkan kemudian digumpalkan dengan bahan peng-gumpal dengan dosis seperti pembuatan lump mangkok. 
          Bentuk slab yang dihasilkan tergantung ukuran dan tempat mencetaknya. Pencetakan dapat dilakukan dalam kotak aluminium, kayu atau dari bahan semen atau dapat pula dibuat lubang segi empat pada tanah tetapi harus dilapisi plastik.  Ukuran yang banyak digunakan adalah 40 x 40 x 6 cm, sehingga volume kayu lateks yang digumpalkan sekitar 15 liter. Slab yang dihasilkan juga harus disim-pan seperti lump mangkok. Slab juga harus dijaga kebersihannya. (Ghoni, 2008).
            Manfaat karet alam dapat digunakan untuk industri barang. Umumnya alat-alat yang dibuat dari karet alam sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari maupun dalam usaha industri penggerak seperti mesin-mesin penggerak.  Barang yang dapat dibuat dari karet alam antara lain aneka ban kendaraan, sepatu, karet, sabuk, penggerak mesin besar dan kecil, pipa karet, kabel, isolator dan bahan-bahan pembungkus logam. Bahan baku karet banyak digunakan untuk membuat perlengkapan seperti sekat atau tahanan alat-alat penghubung dan penahan getaran misalnya shockbreaker. Karet juga dapat digunakan untuk tahanan dudukan mesin (Sugito, 2007). 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar