Kamis, 24 November 2011

BUDIDAYA TANAMAN KENTANG VARIETAS GRANOLA


Pengenalan Tanaman Kentang

          Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan tanaman semusim yang berbentuk semak. Menurut Sunarjono (2007), tanaman kentang termasuk divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, ordo Tubiflorae, famili Solanaceae, genus Solanum, dan Spesies Solanum tuberosum L. (Sunarjono, 2007). Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi dan setelah itu mati. Umurnya relatif pendek hanya 90-180 hari. (Samadi, 2007)
           Spesies Solanum tuberosum L. mempunyai banyak varietas. Umur tanaman kentang bervariasi menurut varietasnya. Kentang varietas genjah berumur 90-120 hari, varietas medium berumur 120-150 hari, dan varietas dalam berumur 150-180 hari. Daun kentang terletak berselang seling pada batang tanaman. Daun berkerut-kerut dan permukaan bagian bawah daun berbulu. Warna daun hijau muda sampai hijau tua hingga kelabu, ukuran daun sedang dan tangkai pendek. Batang berbentuk segi empat atau segi lima, tergantung varietasnya, tidak berkayu, bertekstur agak keras, batang kentang umumnya lemah sehingga mudah roboh bila terkena angin kencang. Warna batang umumnya hijau tua dengan pigmen ungu. (Samadi, 2007)
Tanaman kentang memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Akar tunggang menembus tanah sampai kedalaman 45 cm, sedangkan akar serabut tumbuh menyebar ke arah samping. Akar tanaman berwarna keputihan dan berukuran sangat kecil, di antara akar-akar ini ada yang berubah bentuk dan fungsi menjadi bakal umbi (stolon), kemudian stolon akan menjadi umbi kentang.
          Tanaman kentang ada yang berbunga dan ada yang tidak berbunga, tergantung varietasnya. Warna bunga bervariasi, kuning atau ungu. Kentang varietas Desiree berbunga ungu, varietas Cipanas, Segunung dan Cosima

bunga dan benang sarinya berwarna kuning, sedangkan putik berwarna putih. Bunga kentang tumbuh dari ketiak daun teratas. Umbi terbentuk dari cabang samping di antara akar-akar. Proses pembentukan umbi ditandai terhentinya pertumbuhan memanjang dari rhizoma atau stolon, diikuti pembesaran sehingga rhizoma membengkak. Umbi berfungsi menyimpan cadangan makanan seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.
Ukuran bentuk dan warna umbi kentang bermacam-macam tergantung varietasnya, ukuran umbi bervariasi dari kecil hingga besar. Bentuk umbi ada yang bulat, oval agak bulat, dan bulat panjang. Umbi kentang ada yang berwarna kuning, putih, dan merah. Umbi kentang memiliki mata tunas sebagai bahan perkembangbiakan menjadi tanaman baru. Selain mengandung zat gizi, umbi kentang juga mengandung solanin. Zat solanin bersifat racun dan berbahaya bagi yang memakannya. Racun solanin tidak dapat hilang apabila umbi tersebut keluar tanah dan terkena sinar matahari. Umbi kentang yang masih mengandung racun solanin berwarna hijau walaupun telah tua. (Samadi, 2007)
Menurut Samadi (2007), kandungan gizi kentang setiap 100 gram kentang adalah mengandung 347 kalori, karbohidrat 85,6 g, protein 0,3 g, lemak 0,1 g, kalsium 20 mg, fosfor 30 mg, zat besi 0,5 mg, dan vitamin B 0,04 mg. Kandungan nilai gizi kentang dibandingkan dengan bahan pangan lain dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan Nilai Gizi Tanaman Pangan
Jenis Tanaman
Total Produksi (ton/ha)
Produksi energi (kkal/ha)
Produksi (kg/ha)
Protein (%)
Produksi (kg/ha)
Karbohidrat
(%)
Kentang
8,8
678
176
2
1.496
7
Beras
1,9
688
127
6,4
142,5
7,5
Terigu
1,2
394
144
12
828
6,9
Jagung
1,3
458
117
9
988
76
Kedelai
1,3
525
442
34
-
-
Sumber: Samadi (2007)

Syarat Tumbuh Tanaman kentang

          Kentang termasuk tanaman yang dapat tumbuh di daerah tropis dan subtropis dan dapat tumbuh pada ketinggian 500 m sampai dengan 3000 m di atas permukaan laut, terbaik pada ketinggian 1300 m di atas permukaan laut. Tanaman kentang dapat tumbuh baik pada tanah yang subur, dan mempunyai drainase yang baik, tanah liat yang gembur, debu atau debu berpasir. Tanaman kentang toleran terhadap pH pada selang yang cukup luas, yaitu 4,5 sampai 8,0, pH optimum untuk produksi yaitu 5,0 sampai 6,5. Tanaman kentang tumbuh baik pada lingkungan dengan suhu rendah, yaitu 15 0C sampai 20 0C, cukup sinar matahari, dan kelembaban udara 80% sampai 90%. Pertumbuhan optimum umbi yaitu pada suhu  18-20 0C dengan suhu rata-rata 15,5 0C. (Sunarjono, 2007)
          Tanaman kentang memerlukan banyak air, terutama pada fase berbunga. Tanaman kentang tidak akan tumbuh baik apabila hujan lebat yang berlangsung terus menerus. Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman kentang adalah 2000-3000 mm/tahun. Umumnya tanaman kentang baik ditanam pada daerah yang memiliki hari pendek, tetapi untuk pembentukan bunga tanaman menghendaki hari panjang yaitu 16-18 jam sehari. Varietas tanaman kentang yang dikembangkan di Indonesia sebaiknya dipilih yang berhari pendek karena Indonesia merupakan daerah tropis basah dimana hari pendek disertai suhu tinggi akan mendorong pembentukan umbi yang optimal. (Sunarjono, 2007)

Teknik Perbanyakan dengan Bibit

          Umumnya tanaman kentang diperbanyak dengan umbinya. Ukuran umbi yang biasa ditanam yaitu kelas I berat umbinya 30-45 gram atau bediameter 30-45 mm, kelas II berat umbinya 45-60 gram atau berdiameter 45-55 mm, kelas III berat umbi-nya 60-80 gram atau berdiameter 55-65 mm. Pembibibitan harus dilakukan sesuai dengan kaidah pembibitan yaitu kondisi lahan harus diperiksa dengan baik dan teliti terutama mengenai ketinggian tempat diatas 1000 m dpl,  tidak menggunakan lahan bekas sumber penyakit berbahaya, sumber air mudah ditemukan, tanaman kentang yang akan dibibitkan harus sehat dan terbebas dari serangan penyakit menular. Seleksi dilakukan setelah umbi bibit dipanen. Umbi yang digunakan untuk bibit dipilih dari umbi yang sehat dan bentuknya normal. Umbi yang terkena penyakit, cacat, dan bentuk umbinya menyimpang harus dibuang.
          Lokasi pembibitan kentang sebaiknya dipisahkan dari tanaman kentang budidaya. Hal tersebut untuk menghindari penularan penyakit virus yang ditularkan oleh serangga pembawa virus. Semakin jauh jarak isolasi antar lokasi pertanaman kentang, semakin kecil kemungkinan penularan kutu yang menjadi penular virus. Hal tersebut disebabkan oleh kemampuan terbang kutu yang terbatas. Selain menggunakan umbi, teknik perbanyakan umbi juga dapat dilakukan menggunakan biji, setek daun, dan kultur jaringan. (Hartus, 2001 )

Teknik Penanaman Tanaman Kentang


Persiapan Lahan
       Menurut Samadi (2007), setiap melakukan pergantian tanaman, lahan harus diolah kembali untuk membersihkan gulma, dan untuk memperbaiki struktur tanah supaya gembur sehingga layak ditanami tanaman kentang kembali. Lokasi penanaman kentang yang paling baik adalah lahan sawah bekas tanaman padi. Padi tidak satu famili dengan kentang sehingga dapat memutus daur hama dan penyakit. Bedengan dibuat memanjang ke arah barat-timur agar memperoleh sinar matahari secara optimal. Bedengan dibuat tegak lurus dengan kemiringan tanah pada lahan berbukit, sehingga merupakan teras-teras yang dapat mencegah erosi.
       Lahan untuk bertanam kentang sebaiknya bersih dari semak sisa-sisa akar tanaman sebelumnya. Tanah diolah dengan menggunakan traktor atau cangkul sampai halus dan bersih dari gulma. Kedalaman mengolah tanah antara 30-40 cm. Tanaman kentang menghendaki tanah yang gembur dengan aerasi baik. Apabila tanah keras akan menyulitkan perkembangan umbi, kemudian lahan yang diolah diberi pupuk kandang atau kompos matang. Kebutuhkan pupuk setiap  satu hektar lahan adalah 20-40 ton atau 0,5-0,8 kg/tanaman. (Samadi, 2007)



Penyediaan Bibit
       Umbi bibit yang dibutuhkan setiap lahan satu  hektar sebanyak 1.200-2.000 kg. Bibit kentang yang ditanam sebaiknya dari varietas unggul. Berat umbi ideal adalah antara 30-60 gram. Munculnya tunas umbi bibit dapat juga dipercepat dengan memberikan gas etilen cair atau gas CS2 cair dengan dosis 20-25 cc/kg bibit kentang. Umbi bibit dapat ditanam setelah tunas yang muncul memiliki panjang tunas sekitar 2 cm. (Hartus, 2001)

Pemupukan
       Pemberian pupuk buatan berupa N, P, dan K diberikan secara bersamaan dengan penanaman. Jadwal pemberian pupuk pada tanaman kentang dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jadwal Pemberian Pupuk Pada Tanaman Kentang
No
Perlakuan
Waktu Pemberian
0 HST
21 HST
45 HST
1
Pupuk Kandang
20-40 ton


2
Pupuk buatan




Urea

150-200 kg
100-150 kg

SP-36
500 kg



KCL

100 kg
100 kg
Sumber:  Samadi (2007).

Penanaman
       Penanaman tanaman kentang dilakukan satu minggu setelah pengolah-an tanah dan pembuatan bedengan. Mula-mula pupuk kandang diletakan dalam alur berjarak 25-30 cm, dengan dosis 0,5 kg - 0,8 kg per titik. Umbi bibit diletakan satu per satu diatas pupuk kandang kemudian diberikan furadan dan pupuk buatan sebanyak 15 gram/tanaman yang terdiri dari campuran pupuk urea dan SP36. Umbi dibenamkan dengan tanah sampai setebal 15-20 cm. Jarak tanam tanaman kentang dapat berjarak 25 x 80 cm atau 30 x 70 cm dan populasi tanamannya masing-masing 50.000/ha atau 47.000/ha. (Samadi, 2007)



Pemeliharaan
       Pemeliharaan pada tanaman kentang meliputi menyiang gulma, menyiram tanaman, mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan memberikan pupuk susulan. Pemupukan dilakukan pada waktu tanam dan setelah penyiangan, pemupukan dilakukan sekitar 1 bulan setelah tanam. Pemupukan susulan I dilakukan 21 hari setelah tanam dengan memberikan urea dengan dosis sebanyak 150-200 kg/ha dan KCl dengan dosis sebanyak 100kg/ha. Pemupukan sususlan II dilakukan 45 hari setelah tanam dengan dosis urea sebanyak 100-150 kg/ha dan KCl dengan dosis sebanyak 100 kg/ha. Aplikasi pemupukan dialur pada bagian sisi kanan atau kiri tanaman kemudian ditutup kembali dengan tanah.(Samadi, 2007)
Hama dan Penyakit
       Menurut  Pitojo (2004), hama dan penyakit penting yang menyerang tanaman kentang antara lain:
1.    Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hfn.)
            Ulat tanah terbentuk berwarna kelabu, cokelat, atau hitam dengan garis-garis yang berwarna lebih terang di tengah-tengah punggung. Ulat tanah menyerang tanaman kentang dengan memotong batang tanam muda sampai dengan putus. Ulat tanah juga memakan daun tanaman dan meninggalkan bekas kerusakan pada daun. Pengendalian ulat tanah dilakukan dengan secara mekanis yaitu dengan membunuh ulat yang diketahui menyerang tanaman. Pengendalian kimiawi dilakukan dengan penyemprotan larutan insektisida, serta dengan aplikasi furadan pada saat pengolahan tanah.

2.    Aphid (Myzus persicae)
            Aphid (kutu daun) merupakan serangga yang berperan sebagai perantara penularan penyakit virus PVA, PVY, PVM, dan PLRV. Serangga tersebut berukuran kecil yaitu memiliki panjang tubuh antara 0,6–3 mm. Tubuh aphid berwarna hijau atau hijau pucat, dan kuning atau jingga. Gejala kerusakan yang ditimbulkan oleh aphid yaitu terbentuknya bercak putih pada daun, dan bekas tempat isapan oleh nimfa berubah warna menjadi kekuning-kuningan, akhirnya layu dan mati.
3.      Anjing Tanah (Gryllotalpa africana.)
            Anjing tanah dikenal juga dengan nama orong-orong, gaang, atau mole crickets. Tubuh hewan tersebut berwarna merah, terdiri dari kepala, toraks, dan abdomen. Anjing tanah tinggal di bawah permukaan tanah dan membuat lorong-lorong di dekat permukaan tanah untuk mencari makanan. Anjing tanah memakan hewan-hewan di dalam tanah dan sisa tanaman, dan umbi-umbian. Serangan anjing tanah terhadap umbi kentang menyebabkan umbi berlubang-lubang tidak beraturan.

4.      Penghisap Daun (Thrips palmy)
Hama thrips merupakan serangga berwarna cokelat sampai hitam dan mampu bergerak lincah, karena hama tersebut relatif kecil sehingga hanya gejalannya saja yang nampak. Gejala kerusakan akibat serangan hama thrips yaitu adanya goresan-goresan putih atau kecoklatan pada daun, serangga menghisap cairan daun menyebabkan permukaan daun keriput ke atas, dan pucuk tanaman mengering. Pengendalian hama thrips dilakukan dengan penyemprotan larutan insektisida.

5.    Penyakit Busuk daun (Phytopthora infestans)
Serangan penyakit busuk daun terjadi pada kondisi lingkungan dingin, berkabut, lembap atau musim hujan. Mula-mula terjadi serangan pada permukaan bawah daun, daun busuk berwarna abu-abu sampai kehitaman dan basah, di bawah permukaan daun bagian bawah tampak miselum berwarna abu-abu, umbi terserang menjadi busuk, mengeras, berwarna kehitaman sampai kecoklatan dan tangkai daun dan batang menjadi busuk berwarna hitam dan mengering. Pengendalian penyakit busuk daun dapat dilakukan baik secara preventif  yaitu dengan penyemprotan fungisida yang berbahan aktif mancozeb maupun kuratif yaitu dengan mencabut tanaman yang terkena penyakit busuk daun.




6.      Layu Fusarium ( Fusarium oxysporum)
            Tanaman yang terkena penyakit layu fusarium menunjukan gejala yaitu kelayuan terjadi pada sebagian cabang dan daunnya menguning, ketika batang dibelah xylem tampak berwarna cokelat, umbi yang terbentuk menjadi busuk dan berwarna cokelat. Pengendalian penyakit layu fusarium yaitu dengan aplikasi fungisida yang berbahan aktif Mancozeb.
        
       Penyakit yang disebabkan karena serangan virus yaitu Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung, Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun, Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal, Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak, Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung, dan Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. Pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas, membakar tanaman sakit, dan melakukan pergiliran tanaman.

Panen
       Menurut Samadi (2007), umur panen tanaman kentang berkisar antara 90-180 hari, tergantung varietasnya. Varietas kentang genjah, umur panen 90-120 hari, varietas medium 120-150 hari, dan varietas dalam 150-180 hari. Umur panen juga dipengaruhi oleh keadaan iklim setempat. Kondisi iklim yang dingin di bawah 150C pada awal pertumbuhan dapat memperlambat pertunasan sehingga memperpanjang masa pertumbuhan dan umur panen menjadi lebih panjang. Kentang sudah dapat dipanen apabila daun-daun tanaman telah berubah warna dari hijau menjadi kuning merata, batang tanaman agak mengering dan kulit umbi sudah kuat, tidak mudah lecet, sehingga tidak gampang terluka jika terkena gesekan dan tidak mudah terinfeksi. Umbi dipanen dengan cara menggali guludan dengan cangkul atau garpu secara hati-hati supaya tidak melukai umbinya. Umbi diangkut ke atas tanah dan dibiarkan di atas guludan selama 2-3 jam supaya umbi menjadi kering.
Pascapanen
       Hama dan penyakit tanaman tidak hanya menyerang di kebun, tetapi masih dapat menyerang hasil panen dalam perjalanannya sampai ke konsumen, bahkan ancaman kerusakan tidak hanya terjadi akibat serangan hama penyakit, tetapi juga karena faktor lain seperti faktor fisiologis dan kerusakan mekanis. Kerugian akibat serangan hama atau penyakit dan faktor-faktor lain setelah panen akan meningkat, apabila tidak ada penanganan yang baik. Penanganan pascapanen tanaman kentang yaitu pembersihan, sortasi, grading,  penyimpanan, pengemasan, dan pengangkutan. (Sunarjono, 2007)
Tabel  Lampiran 2 Rincian Biaya Usaha Tani Tanaman Kentang Per Hektar

Kebutuhan
Harga Satuan
Jumlah
TAHUN PERTAMA
I.     Biaya Investasi
a.       Mesin Pompa
b.      Mesin Semprot


1 Set

1 Set



3.000.000

3.000.000


3.000.000
3.000.000
Jumlah (1)


6 .000.000
II.   Biaya Opersional



a.Alat dan Bahan
1.      Sewa Lahan
10.000 m2
3.125.000/ha
3.125.000
2.      Umbi Bibit

2282 kg
14.000/kg
31.948.000
3.      Pupuk Kandang

20 ton/ ha
500/kg
10.000.000
4.      Pupuk An-organik
a.       Za
b.      SP-36
c.       KCL


600  kg/ ha
600  kg/ha
300 kg/ha


1800/ kg
1800 /kg
3600/kg


1.080.000
1.080.000
1.080.000
5.      Furadan
15 kg
18.000/liter
270.000
6.      Insektisida
22,4 liter
49.000/250 ml
4.390.000
7.      Fungisida
22,4 g
98.000/kg
2.195.000
8.      Perekat
22,4 liter
25.000/ liter
560.000
9.      PPC
12,8 liter
60.000/ liter
768.000
10.  Mulsa MPHP
12 Roll
420.000/roll
5.040.000
11.  Ajir
50714/ ha
20/ ajir
1.014.280
12.  Semat
12 lnjr/ ha
6.000/ lenjeur
72.000
13.  Tali Rapia
4 Gulung
16.000/ gulung
64.000
14.  Bahan Bakar
28 l/ siklus
4500/ liter
126.000
15.  Waring
500/ Ha
1300/ Waring
650.000
Jumlah (2a)


63.462.280
b.Biaya Tenaga Kerja
1.      Pengolahan Tanah
10.000 m2
1.125.000/ha
1.125.000
2.      Pembuatan Bedengan
64 HOK
15.000/HOK
960.000
3.      Pemupukan Dasar
32 HOK
15.000/HOK
480.000
4.      Pemasangan Mulsa
25 HOK
15.000/HOK
375.000
5.      Pembuatan Lubang Tanam
12 HOK
15.000/HOK
180.000
6.      Penanaman dan pembumbunan
64 HOK
15.000/HOK
960.000
7.      Pemasangan Ajir dan Pengikatan Tanaman
32 HOK
15.000/HOK
480.000
8.      Aplikasi Pestisida ( 14 Kali)
56 HOK
15.000/HOK
840.000
9.      Penyiraman
56 HOK
15.000/HOK
840.000
10.  Bongkar Ajir dan Pemangkasan
18 HOK
15.000/HOK
270.000
11.  Panen
72 HOK
15.000/HOK
1.080..000
Jumlah (2b)


7.590.000
Jumlah  biaya opersional ( 2a + 2b)                                                                           71.052.280

Deskripsi Tanaman Kentang Varietas Granola

(Solanum tuberosum L.)

 

1.      Asal                                              : Introduksi Jerman Barat
2.      Klon                                             : Granola
3.      Umur                                            : 110-115 hari
4.      Tinggi Tanaman                           : 60-70 cm
5.      Penampang Batang                      : Segi lima
6.      Bentuk Daun                                : Oval
7.      Sayap Batang                               : Oval
8.      Permukaan Bawah Daun             : Berkerut
9.      Kedalaman Mata Umbi                : Dangkal
10.  Warna Batang                              : Hijau
11.  Warna Daun                                 : Hijau
12.  Warna Urat Daun                         : Hijau Muda
13.  Warna Benang Sari                      : Kuning 5 buah
14.  Warna Putik                                 : Putih
15.  Warna Daging Umbi                    : Kuning-Putih
16.  Jumlah Tandan Bunga                 : 2-5 Buah
17.  Kandungan karbohidrat               : 20%
18.  Ketahanan Penyakit                     : Tahan PVA, PLRV, agak peka terhadap
   Layu Bakteri dan Busuk Daun
19.  Produktivitas                                : 20-26 ton/ha
20.  Kadar Air                                     : 30%
21.  Kegunaan                                     : Kentang Sayur
Sumber: Surat Kepmentan No. 444/KPTS.TP.240/6/1993 tanggal 25 Juli 1993 dalam Rukmana (2002).


3 komentar:

  1. Mohon ijin untuk mengkopinya, untuk di infokan lagi kepada yang lain. terima kasih

    BalasHapus
  2. mohon daftar pustakanya di publik jg..trims

    BalasHapus