Rabu, 23 November 2011

BUDIDAYA TANAMAN MANGGA GEDONG GINCU


Mangga merupakan tanaman pendatang dari India, Srilanka, dan Pakistan, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Namun, kebembem (kweni) Mangifera odorata diduga asli dari Kalimantan Timur.  Ada dua tipe mangga, yaitu monoembrioni (satu biji tumbuh satu tunas) dan poliembrioni (satu biji tumbuh lebih dari dua tunas).  Mangga poliembrioni umumnya berasal dari Asia Tenggara (Sunarjono, 2010).

Klasifikasi Botani Tanaman Mangga

Divisi               : Spermatophyta
Sub divisi        : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledonae
Keluarga          : Anarcadiaceae
Genus              : Mangifera
Spesies            : Mangifera spp.
Spesies tanaman mangga yang banyak ditanam di Indonesia adalah Mangifera indica L. dan Mangifera foetida. Jenis Mangifera indica L. yaitu Mangga Arumanis, Golek, Gedong Gincu, Manalagi, dan Cengkir (Indramayu), sedangkan jenis Mangifera foetida yaitu kemang (Cahyono, 2010).

Sifat Botani

Mangga merupakan tanaman hutan yang tingginya mencapai 30 m. Semua bagian tanaman bergetah agak kental. Tanaman mangga lebih senang tumbuh di tempat terbuka.
Akar. Tanaman mangga berakar tunggang dan berakar serabut (akar cabang). Akar tunggang tanaman mangga sangat kokoh dan sangat panjang, tumbuh sangat dalam ke dalam tanah hingga mencapai 6 m. Akar serabut tumbuh secara horizontal di bawah permukaan tanah hingga ke dalam 70 cm atau lebih (Cahyono, 2010).
Batang. Batang tanaman mangga merupakan batang sejati. Pohon berkayu agak keras. Pohon tanaman mangga bedahan, bercabang, dan beranting banyak. Cabang dan ranting tumbuh membentuk oval, memanjang, atau kubah de-


ngan ditumbuhi daun-daun yang lebat. Pada umumnya dahan, cabang, dan ranting tumbuh menyudut (Cahyono, 2010).
Daun. Daun tanaman mangga tergolong daun tunggal yang tumbuh berselang-seling mengelilingi ranting. Daun mangga memiliki tangkai daun yang panjangnya bervariasi, tergantung dari varietas. Ukuran dan bentuk daun juga bervariasi. Pada umumnya daun mangga berbentuk bulat lonjong dengan bagian ujung runcing sampai membulat (Cahyono, 2010).
Bunga. Bunga mangga dapat melakukan penyerbukan sendiri, karena tepung sari yang jatuh pada putik berasal dari pohon itu sendiri, sehingga mangga disebut juga tanaman berumah satu. Menurut susunan secara lengkap, bunga mangga terdiri dari bagian-bagian dasar bunga, kelopak, daun bunga, benang sari atau benang serbuk dan beberapa buah putik. Kelopak dan daun bunga dinamakan perhiasan bunga, sedangkan benang sari dan putik terdiri dari bakal buah dan tangkai tampuk (Cahyono, 2010).
Buah. Buah mangga tergolong buah batu berdaging dan berair.  Bentuk dan ukuran buah beragam, ada yang berbentuk bulat, bulat panjang, bulat telur, pipih, dan lain sebagainya. Mangga Gedong Gincu agak kecil kulitnya berwarna kuning kemerah-merahan dan kesemak serta dagingnya sangat berair dan agak berserat. Warna daging sama dengan warna kulit. Bijinya agak besar dan sebagian dari daging cenderung melekat pada biji. Berat buah mangga Gedong rata-rata 0,3 kg. (Cahyono, 2010).

Syarat Tumbuh

Tanaman mangga cocok hidup di daerah dengan musim kering selama 3 bulan.  Masa kering diperlukan sebelum dan sewaktu berbunga.  Jika ditanam di daerah basah, tanaman mangga mengalami banyak serangan hama dan penyakit serta gugur bunga atau buah jika bunga muncul pada saat hujan.
Tanah yang baik untuk budidaya tanaman mangga adalah gembur me-ngandung pasir dan lempung dalam jumlah yang seimbang.  Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok adalah 5,5 - 7,5.  Jika pH di bawah 5,5 sebaiknya diberi kapur dolomit.  Mangga yang ditanam di dataran rendah dan menengah dengan ketinggian 0-500 m dpl menghasilkan buah yang lebih bermutu dan jumlahnya lebih banyak daripada di dataran tinggi (Sunarjono, 2010).


Teknik Budidaya Tanaman Mangga Gedong Gincu

Pembibitan Mangga

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan bibit mangga yaitu, varietas bibit bermutu, berlabel, dan varietas yang sudah dilepas dengan spesifikasi tinggi.  Ukuran bibit antara 80-100 cm dan diameter 1 - 1,5 cm.  Warna batang hijau tua kecoklatan, bentuk batang lurus, tidak bercabang, warna daun hijau mengkilap, dan telah membentuk 3 flush.  Bibit yang dipilih sebaiknya telah berumur enam bulan atau lebih. Bibit bebas dari serangan hama dan penyakit, serta berasal dari perbanyakan vegetatif (okulasi atau sambung pucuk).
Sumber benih dan bibit harus jelas, berasal dari penangkar benih yang terdaftar dan bersertifikat, berasal dari Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) yang jelas serta mempunyai batang bawah yang kuat dan tahan terhadap penyakit.  Jaminan mutu dan produk (label/sertifikat) harus dicatat dan disimpan.  Ke-butuhan bibit sesuai dengan luas lahan (100 tanaman/ha) ditambah 2-5 % cadangan untuk penyulaman. Bibit mangga diperbanyak secara vegetatif dengan cara okulasi, sambung pucuk, dan cangkok, dapat pula diperbanyak secara generatif yaitu dengan menggunakan biji (Redaksi AgroMedia, 2009).

Perencanaan Kebun

Perencanaan kebun dimulai dari pembuatan sketsa kebun atau rencana tata letak kebun yang terdiri dari arah barisan, sumber air, jalan usaha tani dan tempat penampungan hasil sementara.  Persiapan lahan untuk digunakan sebagai media tumbuh tanaman agar dapat tumbuh optimal dan berproduksi dengan baik. Perencanaan kebun dimulai dari pemetaan dan pengukuran luas kebun, kemudian membuat kapling setiap blok lokasi kebun setelah itu menentukan lokasi sumber air atau irigasi, bak penampungan air, jalan masuk dan keluar kebun, gedung tempat pengumpulan buah atau hasil panen. Lahan dibersihkan dari tanaman pengganggu, untuk lahan yang memiliki lahan dengan kemiringan 10 % dibuat teras. Lubang tanam dibuat dengan jarak antar lubang 10 x 10 m dan lubang tanam berukuran 70 x 70 x 70 cm untuk tanah gembur, untuk tanah liat dan berbatu dibuat dengan ukuran 100 x 100 x 100 cm, tanah bagian atas dipisahkan (kedalaman 0-30 cm) dengan tanah bagian bawah (kedalaman 30-70 cm) dalam kisaran pH tanah 5,5–7,0.  Lubang tanam dibiarkan terbuka selama kurang lebih dua minggu sebelum penanaman, kemudian campur tanah  bagian atas dengan pupuk kandang 20-30 kg/lubang (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, 2008).

Penanaman

Penanaman merupakan rangkaian kegiatan menanam benih atau bibit tanaman mangga secara baik dan benar hingga tanaman berdiri tegak dan siap tumbuh subur di lapangan.  Bibit mangga Gedong Gincu ditanam pada saat awal musim hujan.  Pupuk kandang diberikan sebanyak 20-30 kg/lubang tanam dan pupuk SP-36 sebanyak 20-40 kg/ha.  Polybag bibit mangga yang akan ditanam disobek dari bawah sampai samping dengan hati–hati.  Bibit ditanam secara tegak lurus.  Bibit okulasi dihadapkan ke arah datangnya angin agar tunas tempelan tidak patah dan bibit sambung pucuk ditanam tegak lurus dengan arah angin.  Bibit ditanam lebih dari 5 cm di atas pangkal batang dan lebih dari 25 cm di bawah okulasi kemudian lubang tanaman ditutup dengan tanah galian dan tekan sedikit di samping tanah bekas polybag.  Ajir ditancapkan di sisi tanaman agar tanaman dapat tumbuh tegak lurus ke atas, kemudian ajir diikat dengan tali.  Pemasangan naungan yang terbuat dari daun kelapa, jerami padi, rumput kering atau anyaman bambu sebagai pelindung tanaman selama 1-2 bulan (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, 2008).

Pemangkasan

Pemangkasan tanaman mangga dibagi menjadi dua jenis yaitu :

1.        Pemangkasan bentuk

Memangkas cabang ranting tanaman yang tidak produktif dan pembentukan kanopi.  Kanopi tanaman terbentuk dengan pola (1-3-9-27), yakni 1 batang utama, 3 cabang primer, 9 cabang sekunder dan 27 cabang tersier.

2.        Pemangkasan pemeliharaan atau produksi

Membuang cabang atau ranting yang tidak bermanfaat. Merangsang munculnya tunas vegetatif pada ranting-ranting yang sebelumnya berbuah, sekaligus mengendalikan pertumbuhan tanaman yang berlebihan dan mendukung kontinuitas produksi.

Pemupukan

Pemupukan pada tanaman mangga dibedakan menjadi dua bagian yaitu:

1.        Pemupukan untuk tanaman belum menghasilkan (fase juvenil).

Proses kegiatan pemberian nutrisi pada tanaman agar kondisi unsur hara dalam tanah yang dibutuhkan tanaman dapat terpenuhi.  Pemupukan tanaman belum menghasilkan dilakukan dua kali setahun dan pupuk organik diberikan satu kali setahun pada awal musim hujan sebanyak 20-40 kg/tanaman. Alur dibuat melingkar selebar tajuk tanaman kemudian pupuk ditaburkan pada alur yang sudah dibuat dan timbun dengan tanah. Jenis dan dosis pupuk untuk tanaman mangga Gedong Gincu  yang belum menghasilkan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pedoman Perkiraan Pemupukan Mangga (Gedong Gincu) Belum     Menghasilkan Setiap Tanaman
Umur
(tahun)
Pupuk organik
(blek)
Urea
(g)
SP-36
(g)
KCl/Za
(g)
1
0,5
250
100
250
2
1
300
150
350
3
2
350
200
350
4
2
400
250
400
Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu  Tahun 2008.
Catatan : 1 blek = 20 kg

2.        Pemupukan untuk tanaman sudah menghasilkan

Proses kegiatan pemberian nutrisi pada tanaman bertujuan agar kondisi unsur hara dalam tanah yang dibutuhkan tanaman dapat memenuhi kebutuhan.  Pemupukan dilakukan pada saat setelah panen dan pemangkasan dengan dosis pupuk 450 g Urea, 300 g SP-36, 450 g KCl , dan pupuk organik atau kandang 20 kg per tanaman. Pemupukan menjelang berbunga diberikan dengan dosis 150 g Urea, 150 g SP-36, 100 g KCl per tanaman. Pemupukan pada saat buah sebesar kelereng diberikan dengan dosis 198 g Urea, 132 g SP-36, 198 g KCl per ta-naman.  Pupuk organik diberikan setiap tahun pada awal musim hujan sebanyak 2-10 bakul per tanaman (20-100 kg).  Pemupukan dilakukan dengan cara membuat lingkaran parit di bawah kanopi kemudian taburkan pupuk dan timbun, khusus untuk pupuk organik diberikan di bawah lingkar luar kanopi. Jenis dan dosis pupuk untuk tanaman mangga Gedong Gincu yang sudah menghasilkan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Pedoman Perkiraan Dosis Pemupukan Mangga yang Sudah Menghasilkan Setiap  Tanaman.
Umur
(tahun)
Pupuk organik
(bakul)
Urea
(g)
SP-36
(g)
KCl/Za
(g)
5
2,5
450
300
450
6-8
3,5
500
350
500
> 8
> 4,5
> 600
400
600
Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu  Tahun 2008.
Catatan : 1 bakul = 10 kg

Penyiangan

Kebun mangga dibersihkan dari rumput-rumput atau gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman mangga. Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut atau memotong rumput serta mencangkul gulma yang tumbuh di bawah tajuk tanaman mangga sampai bersih.  Gulma yang di luar kanopi dibiarkan tumbuh  supaya dapat mengurangi penguapan terutama pada musim kemarau.

Pengairan

Pengairan dilakukan untuk memberikan air sesuai dengan kebutuhan tanaman dan sesuai fase pertumbuhan.  Pengairan sangat dibutuhkan dalam proses produksi tanaman terutama pada saat pembesaran buah.  Pengairan tanaman mangga disesuaikan dengan musim, umur tanaman (lebar tajuk) dan fase pertumbuhan tanaman.  Tanaman muda di bawah 5-6 tahun membutuhkan sebanyak 40 liter/hari/tanaman, sedangkan tanaman yang sudah menghasilkan diberikan pengairan sebanyak 100 liter/hari/tanaman.  Pengairan pada saat buah sebesar bola pingpong yaitu 70-100 liter/tanaman/hari dan penyiraman dilakukan pada sore hari agar tidak terjadi penguapan.  Pengairan dikurangi secara perlahan-lahan dua minggu sebelum panen dengan volume 40 liter per tanaman.  Menjelang buah tua pengairan tidak diberikan untuk membentuk mutu buah yang diinginkan (rasa manis dan kematangan), pada saat setelah panen tanaman mangga memerlukan banyak air untuk memulihkan diri dari keadaan stres ke keadaan normal. 

Penjarangan dan Pembungkus Buah

Penjarangan buah dilakukan untuk mengurangi jumlah buah yang terdapat dalam setiap tangkai dengan membuang buah yang dianggap tidak baik untuk dipelihara. Buah mangga hanya dipelihara 2-3 buah per tangkai sehingga sesuai dengan daya dukung tanaman untuk menghasilkan buah dengan mutu dan jumlah yang optimal.  Pembungkusan buah bertujuan untuk mencegah dari serangan OPT. Pembungkusan dilakukan setelah penjarangan dengan menggunakan kain berwana sebagai tanda waktu petik buah.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

Pengendalian OPT adalah tindakan yang dilaksanakan untuk mengendalikan gulma, hama, dan penyakit, serta mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tanaman.  Pengendalian OPT dapat dilakukan dengan perbaikan teknik budidaya (mengatur jarak tanam, memperbaiki sistem pengairan, dan sanitasi kebun), membuang bagian tanaman yang terserang kemudian dibakar, membuat perangkap hama lalat bibit, dan penggunaan pestisida (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, 2008).

1.        Hama

a)        Bisul Daun ( Procontarinia matteiana )
Gejala : Daun tanaman mangga menjadi berbisul dan daun menjadi berwarna coklat, hijau dan kemerahan.
Pengendalian : Hama bisul daun dikendalikan dengan penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord, Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan memperbaiki aerasi.
b)        Kutu Putih ( Pseudococcidae )
Gejala : Kutu mengisap cairan daun, buah, dan bagian lain di tempat kutu berada. Bagian tanaman yang terserang tampak dipenuhi oleh massa putih seperti lilin yang bertepung. Kutu menghasilkan embun madu yang sangat disukai semut. Embun madu yang berlebihan menyebabkan timbulnya jamur embun jelaga pada daun, tangkai, atau buah, sehingga pertumbuhan bagian tanaman yang terserang tidak normal.
Pengendalian : Kutuh putih dikendalikan dengan melakukan sanitasi lahan dari gulma, musuh alami, dan penggunaan insektisida sistemik bila populasi tinggi.
c)        Lalat Buah ( Bactrocera dorsalis )
Gejala : Buah mangga yang terserang lalat buah terdapat noda bekas tusukan alat peletak telur lalat betina saat meletakkan telurnya pada permukaan kulit buah. Larva muncul dari telur di dalam buah. Serangan larva menyebabkan noda-noda tersebut berkembang menjadi bercak cokelat di sekitar titik noda, larva memakan daging buah, menyebabkan buah busuk, jatuh dan menurunkan produktivitas.
Pengendalian : Lalat buah di kendalikan dengan memusnahkan buah yang rusak, memberi umpan berupa larutan sabun atau metil eugenol di dalam wadah dan insektisida.
d)       Penggerek Cabang ( Rhitydodera simulans )
Gejala : Hama menggerek batang cabang hingga terbentuk lubang, jika bagian tanaman yang terserang terbelah, akan terlihat lorong-lorong tempat larva. Pada tingkat serangan tinggi, tanaman menjadi layu, daun rontok, dan akhirnya tanaman mati. Hama ini biasanya menyerang saat musim hujan.
Pengendalian : Cabang yang terserang dipangkas dan dimusnahkan.  Pengendalian secara biologis dengan pemanfaatan parasit telur, seperti Promuscidaea, Anagyrus, dan eupelmus. Parasit telur dibiakkan terlebih dahulu, lalu disebar di lokasi kebun. Pengendalian kimiawi menggunakan pestisida berbahan aktif karbufuron, betasiflutrin, mancozeb, seperti bludok 25EC dengan dosis 2 ml/liter air (Joko dan Wibisono, 2007).

2.        Penyakit

a)        Penyakit Diplodia
Penyebab : Jamur Diplodia sp. Penyakit timbul pada pangkal batang dan cabang-cabang tanaman mangga, bagian yang sakit mangalir cairan, kulit berwarna gelap kemudian mengering, pecah, dan mengelupas berkeping-keping.
Pengendalian : Penyakit diplodia dikendalikan dengan menggunakan fungisida bubur bordeaux. Luka diolesi atau ditutup parafin-carbolineum.
b)        Cendawan Jelaga
Penyebab : Virus Meliola mangifera atau jamur Capmodium mangiferum. Daun mangga yang diserang berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam disebabkan oleh jamur yang hidup di cairan manis.
Pengendalian : Cendawan jelaga dengan fungisida atau tepung belerang.
c)        Antraknosa
Penyebab : Jamur Colletotrichum gloeosporiodes menyerang daun, ranting, bunga dan tunas sehingga terbentuk bercak yang berwarna hitam. Penyakit ini sangat mempengaruhi proses pembuahan.
Pengendalian : Antarknosa dapat dikendalikan dengan melakukan pemangkasan dahan, cabang, ranting, menyemprotkan fungisida bubur bordeaux atau sulfat tembaga.
d)       Kudis Buah ( Elsinoe mangiferae )
Kudis buah menyerang tangkai bunga, bunga, ranting dan daun.
Gejala : Tanaman mangga yang terserang terdapat bercak kuning yang akan berubah menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga berjatuhan.
Pengendalian : Kudis buah dapat dikendalikan dengan penyemprotan fungisida Dithane M-45, Manzate atau Pigone tiga kali seminggu dan memangkas tangkai bunga yang terserang (Joko dan Wibisono, 2007).

3.        Gulma

Benalu memberikan kerusakan dalam waktu pendek karena menyebabkan makanan tidak diserap tanaman secara sempurna. Pengendalian dengan memotong cabang yang terserang, menebang tanaman yang diserang benalu dengan berat.

Panen

Kegiatan panen dibagi menjadi dua bagian :

1.        Waktu dan Kriteria Panen

Buah tanaman mangga yang siap panen memiliki kriteria yaitu, bekas tangkai buah yang rontok kelihatan mengering seluruhnya, lekukan ujung buah rata dan hampir hilang, warna kulit buah hijau kemerahan, pori-pori merata dan lapisan lilin mulai menebal pada permukaan buah, dan buah tidak berbunyi nyaring bila disentil. Buah mangga yang siap dipanen berumur 95-115 hari setelah bunga mekar dan waktu petik dilakukan pada jam 09:00-16:00 WIB.

2.        Cara panen

Alat yang digunakan untuk panen yaitu, gunting pangkas, galah berjaring dan dilengkapi keranjang atau kantong. Buah mangga dipanen dengan meng-gunakan gunting pangkas dan sisahkan tangkai buah sepanjang kurang lebih 5-10 cm (untuk mencegah agar buah tidak terkena getah). Buah mangga diletakkan di dalam keranjang buah dengan menggunakan alas daun pisang kering dan diletak-kan dengan posisi tangkai buah menghadap ke bawah sampai getah habis.

Pasca Panen

Pasca panen merupakan  rangkaian  kegiatan  penanganan buah sejak dipa-nen hingga buah siap didistribusikan ke konsumen adapun kegiatan dalam pasca panen yaitu :

1.        Pengumpulan

 Pengumpulan buah mangga dilakukan setelah panen sebelum buah diproses lebih lanjut. Buah mangga dikumpulkan dan disimpan dalam gudang penyimpan-an yang sudah dibersihkan.  Gudang penyimpanan harus memiliki sirkulasi yang baik. Keranjang buah ditumpuk secara hati-hati maksimum delapan tumpuk dan diberi pembatas antara keranjang.

2.        Sortasi

Sortasi merupakan kegiatan menyeleksi dan memisahkan buah antara yang baik dan jelek.  Buah mangga yang baik dengan buah yang tidak baik dipisahkan, kemudian tangkai buah dipotong.  Buah mangga yang matang dipilih dengan cara dimasukkan ke dalam bak penampung berisi air, bila buah tenggelam artinya buah telah matang 90-100%.  Buah melayang artinya buah belum begitu matang 80-85%.  Buah yang tenggelam dengan buah yang melayang dikelompokkan dan diletakkan di keranjang beralas kertas koran maksimal delapan tumpukan, dengan posisi tangkai buah menghadap ke bawah.

3.        Grading

Grading merupakan kegiatan memilih atau mengelompokkan berdasarkan kriteria bentuk buah, tingkat kematanganan, dan keseragaman buah.  Buah ditimbang dan dipisahkan sesuai dengan kelasnya. Standar nilai kualitas berdasarkan beratnya adalah sebagai berikut :
A :  > 450 – 550 g per buah
B : 350 -  < 450 g per buah
C : 250 - < 350 g per buah

1.        Pengemasan

Kegiatan pengemasan atau penyusunan buah dalam suatu wadah kemasan yang sesuai kelas atau grade buah yang diinginkan, peletakan buah dalam kemas-an dengan posisi punggung buah menghadap ke bawah. Buah mangga dilengkapi dengan partisi dan irisan kertas atau jaring buah yang terbuat dari styrofoam.

2.        Penyimpanan

Buah yang sudah dikemas dalam kardus disimpan di dalam gudang penyim-panan bersirkulasi baik. Kardus ditumpuk maksimal empat tumpukan, untuk lama penyimpanan selama dua hari.

0 komentar:

Poskan Komentar